Assalammu alaikum warrohmatullohi wabarrokatu..........................
salam kenal dan salam sayang..............
hallo,makasih ya dah kunjumg ke blog aku.mungkin masih banyak yang kurang lo dari blog ku ini maklum aku masih pemula..lok ada yang kurang lengkap dan ada yang salah.sebelumnya maaf za.......
Waalaikum salam warrohmatullohi wabarrokatu...............................

Senin, 26 Desember 2011

PINTU Yang TERTUTUP.....


Ku ucap salam.....
Ku ketuk berkali-kali
Tapi............
Kenapa engan kau buka pintu itu untuk Ku...
Bencikah kau.............
Malukah kau.............

Atau...

Kau males menerima kedatanganku kawan....
Sebenci itukah kau padaku..
Sedalam itukah dendammu padaku.......
Sampai kapan mampu kau maafkan aku.....
Sampai kau tak mampu memdengarkan maafku lg atau sampai aku diambil........

Sobat buka pintumu..........untuk menerima kedatanganku.........
sobat buka hatimu......untuk sebuah maafku....
Aku tulus memintanya darimu karena aku akan selalu jadi masa lalumu..

Kamis, 22 Desember 2011

LANGKAH INTERPRETASI PUISI

Puisi- sajak-sajak- memiliki kekhasan dibanding genre (bentuk) sastra
lainnya. Umumnya unsur-unsur yg membangun puisi- sajak- sangat kompleks.
Namun unsur-unsur tsb tidak berdiri sendiri-sendiri, semua unsur tsb
menyatu/ saling mendukung didalam puisi tsb. Dalam proses pembentukannya,
puisi mengalami proses konsentrasi (pemusatan) dan intensifikasi (pemadatan).
Walaupun ada puisi- sajak - yang menyarankan makna denotatif (makna lugas/
makna kata sesuai dengan arti pada kamus), ada banyak puisi yang menyarankan
makna konotatif (makna tambahan diluar makna lugas/harfiah).

Langkah sederhana dalam memahami puisi/ sajak:
1. Perhatikan judul puisi/sajak:
Judul bisa menunjukkan makna keseluruhan atau menampilkan identitas/
keunikan puisi tsb. Judul bisa menjadi salah satu kunci untuk
memahami keseluruhan puisi.
2. Pahami makna denotatif puisi.
3. Bila masih belum puas, lanjutkan mencari
makna konotatif/ simbolis puisi tsb.

Walaupun kita akhirnya sampai kepada makna konotatif/ simbolis,
tafsiran harus tetap ada hubungannya dengan teks puisi, tidak terlepas
sama sekali.
Jadi tanfsiran tidak bersifat semena-mena tanpa hubungan apapun dengan
teks puisi.

Perhatikan puisi Sutardji berikut:

TRAGEDI WINKA & SIHKHA

kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
ka
win
ka
win
ka
win
ka
win
ka
winka
winka
winka
sihka
sihka
sihka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
sih
sih
sih
sih
ka
Ku

(Sutardji Calzoum, O, Amuk, Kapak)

Interpretasi:
------------

a) Judul puisi:
Tragedi Winka dan Sihkha seolah menggambarkan suatu tragedi/
sesuatu yg menyedihkan. Seolah terjadi pada orang bernama
Winka dan Sihkha.

b) Makna denotatif:
Selain kata "Tragedi Winka dan Sihkha" pada judul, kita hanya
menemukan kata: "kawin" dan "kasih" yg terputus-putus dan "kaKu".
Bila dikaitkan dengan judul, "kawin" dan "kasih" seolah bukan
kegembiraan/ kebahagiaan tetapi tragedi, namun interpretasi
ini masih kurang memuaskan/ terlalu sederhana. Maka sejauh
ini makna denotatif kurang begitu memadai. Lalu kita melangkah
ke makna konotatif/ simbolis.

c) Makna konotatif:
Dari sisi makna konotatif/ simbolis kita bisa mulai dari
mengamati tipografi - penampilan visual- puisi.
Kata "kawin" dan "kasih" ditulis putus-putus secara berulang
dalam bentuk Zigzag yang menggambarkan bahwa "kawin" dan "kasih"
itu adalah sesuatu yg sulit/ tidak mudah. "Kawin" dan "Kasih"
masa kini tidaklah merupakan jalan lurus tetapi jalan yg berliku/
patah-patah, penuh dengan kesulitan, percekcokan/ tidak selalu
sejalan antara pria & wanita yg mengalaminya. Lalu, penulisan kata
"kawin" dan "kasih" tsb terbalik:
kawin menjadi winka
kasih menjadi sihka
Makna simbolis/ konotatif dari pembalikan ini dapat menggambarkan
bahwa "kawin" dan "kasih" masa kini sudah terbalik, sudah
tidak sakral lagi, dalam hubungannya dengan Tuhan, tetapi hanya
seremonial saja yg dapat dilanggar dengan mudah.
Sedangkan kata "ka" disambung "Ku" menjadi "kaku" yg bermakna konotatif
bahwa kawin dan kasih itu sudah menjadi kaku, tidak hidup/ bergelora
lagi, sudah kehilangan rasa.
"Ku" yg ditulis dengan huruf besar bisa juga bermakna "Aku" -
Aku lirik- yg mengalami "kawin" dan "kasih" yg telah serba
terbalik itu.

URGENT...GAE KULIAH REK...

Menafsirkan sebuah Puisi
Lempar kata ini
Sebelum dituntut kembali
(Subagio Sastrowardojo)

Salah satu kegiatan apresiasi puisi adalah kegiatan reseptif atau kegiatan penerimaan. Dalam kegiatan tersebut pembaca berusaha memahami makna, pesan, dan keindahan puisi. Untuk itu pembaca harus melakukan analisis terhadap puisi.
Seperti halnya jenis sastra yang lain, puisi merupakan sebuah dunia simbol. Oleh karena itu untuk memahami makna, pesan, dan keindahan puisi, pembaca harus menafsirkan puisi itu. Tak salah kiranya bila puisi itu dianggap sebagai dunia interpretatif dan sekaligus dunia alternatif. Penafsiran itu akan melahirkan pelbagai kemungkinan makna.
Interpretasi terhadap puisi berarti pemberian makna terhadap teks puisi. Sebagai sebuah pemberian maka besar-kecil dan dangkal-dalam penafsiran tersebut sangat bergantung kepada kekayaan pengalaman apresiator. Oleh karena itu bisa terjadi sebuah puisi akan ditafsirkan berbeda antara pembaca A dan pembaca B karena pengalaman mereka yang saling berbeda.
Puisi merupakan dunia sekunder, sementara pembaca berada di wilayah dunia primer. Hal itulah yang membuat banyak pembaca tidak mampu memahami puisi karena saat menafsirkan makna puisi mereka tidak dapat melepaskan diri dari dunia primernya. Bahkan banyak pula yang berharap bahwa puisi sebagai sebuah dunia sekunder janganlah terlalu menyimpang dari dunia primernya.

A. Tentang Tiga Kode
Menurut A.Teeuw (1991:12) proses membaca yaitu memberi makna pada sebuah teks tertentu adalah proses yang memerlukan pengetahuan sistem kode yang cukup rumit, kompleks dan aneka ragam.
Kode pertama yang harus kita kuasai untuk menanfsirkan atau memberi makna puisi ialah kode bahasa. Mari kita simak puisi berikut ini:

RUANG PUBLIK & PUISI
Ketika –
IMB & Lotus bersekutu melawan Microsof dalam
perang komputer
7,7 triliun rupiah bergeser, beredar, mengorak pasar
saham

Ketika –
Berlusconi & Murdoch, dua hulubalang
dengan gemerincing mesin cetak ulang
bertarung di Eropa berebut tahta kekaisaran media
peluru-peluru produksinya berdesingan
akan sampai pula di ruang-ruang kita paling pribadi
kamar tidur bahkan sel otak
lewat perabot mati bersama televisi

Ketika –
AS, Korsel & Korut berkubang di Kualalumpur
merumuskan orde baru: nuklir untuk perang atau
damai

Persis-
Depan hidung Tokyo sedang perang dunia lawan
Washington
bab pokok pasal dagang
yendeka membetot naik daftar harga
kerikilnya sangat terasa pada nasi sarapan kita

Maka-
Di Surabaya, Balai Pemuda & Taman Budaya
di ruang publik ini
dunia batin, kerajaan absolut sang puisi
diudarkan jadi atmosfer kebebasan

(Akhudiat, 15 Juni 1995)

Puisi memakai bahasa sebagai media ekspresinya. Oleh karena itu wawasan mengenai bahasa yang dipakai penyair untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan itu mutlak harus dimiliki oleh seorang apresiator. Pembaca atau apresiator harus memiliki pemahaman terhadap bahasa tersebut baik dari segi kosa kata dan makna, tata bentukan, tata kalimat, dan sebagainya.
Misalnya saja frase ruang publik dalam puisi Akhudiat di atas. Bagaimanakah konstruksi sebenarnya bentukan tersebut: ruang untuk publik, ruang milik publik, ruang dari publik, ataukah ruang tentang publik? Untuk memahami makna konstruksi tersebut mau tak mau kita harus memahami kaidah fraseologis atau kaidah komposisi dalam bahasa Indonesia. Penafsiran secara kurang benar atas konstruksi ruang publik itu tentu akan mempengaruhi penafsiran makna keseluruhan (total of meaning) puisi tersebut.
Misalnya lagi konstruksi diudarkan jadi atmosfer kebebasan. Apa makna kata diudarkan yang kebetulan kata dasar udar dipinjam dari bahasa Jawa? Apakah ia bermakna dibuka, diuraikan, ditelanjangi, disebarkan, dikemukakan atau lainnya? Lalu bagaimana kaitan logika antara diudarkan dan menjadi atmosfer kebebasan. Mungkinkah kata kerja udar bisa melahirkan suatu fenomena bentukan? Nah, tanpa memahami bahasa tidak mungkin kita memaknai atau menafsirkan puisi.
Ternyata memahami kode bahasa tidaklah cukup, kita harus pula memahami kode budaya. Budaya yang dimaksudkan ialah hal-hal, peristiwa, benda-benda, cara berpikir, dan sebagainya yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia. Untuk memahami puisi Akhudiat tersebut kita mesti tahu IBM, Lotus, Microsof, perang komputer, dan mengorak pasar saham. Tanpa memahami konteks budaya komputer dan seluk beluknya kita tak akan sampai pada makna yang dalam. Demikian pula tanpa memahami relasi Berlusconi dan Murdoch, kita tak bisa mendekati makna yang dikehendaki penyairnya. Lalu apa maksud AS, Korsel dan Korut berkubang di Kualalumpur? Untuk itu kita mesti memiliki pengetahuan peristiwa sejarah yang sudah dan sedang berlangsung.
Suatu misal kita sudah memahami kode bahasa dan sekaligus kode budaya mampukah kita memahami makna baris kerikilnya sangat terasa pada nasi sarapan kita? Ternyata tetap saja tidak mudah menafsirkan makna baris tersebut.
Puisi memiliki kekhasan ekspresi. Dia memiliki kode-kode tertentu yang membedakannya dengan cerita pendek, teks drama, maupun esei. Puisi merupakan ekspresi yang padat. Puisi dibangun oleh kata yang berkonotasi tinggi dan memanfaatkan potensi bahasa dalam rupa majas dan irama. Baris kerikilnya sangat terasa pada nasi sarapan kita hendaknya kita dudukkan pada koridor estetik dan puitik, penuh simbol dan metafor-metafor. Jadi kita mesti memahami perihal kode sastra, dalam hal ini kode puisi, untuk mampu menafsirkan makna sebuah puisi. Kerikil dalam puisi di atas jelas merupakan metafor dari pengertian lain yang mesti kita tafsirkan. Mungkin saja dalam konteks bahasa sehari-hari orang tidak mengucapkan kalimat seperti dalam baris itu, tetapi dalam puisi ungkapan semacam itu dengan pelbagai ragam dan variasinya sering terjadi.
Nah, akhirnya dapat kita simpulkan bahwa untuk menafsirkan makna sebuah puisi seorang apresiator harus memahami kode bahasa, kode budaya, dan kode sastra.

B. Penafsiran Puisi
Ada bebrapa hal yang mesti dicermati saat kita berkehendak menafsirkan makna sebuah puisi. Sebelum kita mempelajari hal-hal itu simaklah terlebih dahulu puisi berikut ini.
APA KAU TELAH DAPAT GANTI RUGI
Apa kau telah dapat ganti rugi
Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami
Apa kau telah dapat ganti rugi
Apakah kau hanya dibohongi?

Materai dan kertas berhuruf kanji
Tak seindah bunga bakung di tepi kali
Meterai dan kertas yang digores belati
Tak seindah jerami menoreh pasir di bumi

Telah ditebang pohon kedondong dan maoni
Telah ditebang pohon-pohon hijau trembesi
Telah ditebang pohon-pohon pakisaji
Telah ditebang jiwamu yang tak ditopang beton bersigi

Aku sebagai saksi
Aku semut yang bersarang di daun pakisaji
Aku ulat yang merayap di kelopak kulit trembesi
Aku burung pelatuk yang berumah di pohon maoni

Apa kau telah dapat ganti rugi
Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami
Apa kau telah dapat ganti rugi
Apakah kau hanya dibohongi?

Aku sebagai saksi

(Suripan Sadi Hutomo, 27 Mei 1990)

1. Memahami judul
Sebuah puisi pada umumnya memiliki judul. Dalam sebuah puisi judul bukan sekedar tanda, tetapi gerbang untuk menuju ke kedalaman puisi tersebut. Judul menjadi semacam lorong yang mengarahkan pembaca kepada pusat makna.
Memahami judul menjadi sangat penting karena dengan memahami judul kita memasuki wilayah wacana dengan lebih terbatas, lebih memusat, tidak begitu menyebar atau tidak begitu membias.
Puisi Suripan Sadi Hutomo di atas berjudul Apa Kau Telah Dapat Ganti Rugi. Judul tersebut bernada tanya, si aku lirik bertanya kepada seseorang perihal apakah orang itu telah mendapatkan ganti rugi (atas tanahnya yang telah diserahkan kepada pemerintah demi pembangunan). Pertanyaan tersebut lahir dari kenyataan bahwa banyak rakyat yang tidak mendapatkan ganti rugi atau andaikan mendapatkannya tanah itu dihargai sangat murah. Judul itu telah mengarahkan kita pada makna atau persoalan tertentu.
Dengan memahami judul kita lebih mudah memahami baris-baris yang terdapat dalam puisi.


2. Memahami latar
Latar ialah piranti wacana yang menjelaskan perihal tempat, waktu, keadaan sosial, keadaan kultural, peristiwa, sejarah dan sebagainya yang menempatkan puisi ke dalam matra tertentu. Puisi sebagai perwujudan kepekaan penyair dalam membaca lingkungan sekitarnya tak dapat dilepaskan dari matra ruang, waktu, zaman, sejarah, dan sebagainya.
Kita kembali pada puisi Suripan Sadi Hutomo di atas. Baris Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami terpancar kesan industrialisasi: dari kultur agraris diarahkan menjadi kultur industri, dari tanah menjadi pabrik. Perubahan latar sosial semacam itu, disadari atau tidak, akan berdampak pada tata kehidupan masyarakat.
Materai dan kertas berhuruf kanji menempatkan kita pada latar tertentu, latar yang amat asing bagi penduduk desa (yang buta huruf). Kertas behuruf kanji membawa kita untuk membayangkan suatu kekuasaan asing di bidang ekonomi, yakni Cina, Jepang, atau bahkan Korea. Telah kita jual tanah kita kepada pemiliki modal asing, dan jadilah rakyat Indonesia buruh di negerinya sendiri.
Nilai-nilai tradisional yang adiluhung pun kikis oleh dinamika pembangunan dan modernisasi pohon kedondong dan maoni, daun pakisaji, hijau trembesi, dan sebagainya sebagai perwujudan latar tradisional tiba-tiba telah menjadi masa lalu.

3. Memahami kata ganti
Menurut Harimurti Kridalaksana (1983:138) kata ganti atau pronomina ialah kata yang menggantikan nomina atau frase nominal. Dalam bahasa Indonesia kita mengenal pronomina demonstratif yaitu kata yang dipakai untuk menunjuk atau menandai secara khusus orang, benda atau peristiwa, misalnya ini atau itu. Di samping itu dikenal pula pronomina persona yaitu kata yang menggantikan kategori deiksis yang berhubungan dengan partisipan dalam sebuah situasi bahasa, misalnya saya, ia, mereka, dan sebagainya.
Siapakah kau dalam baris Apa kau telah dapat ganti rugi? Jawabannya ialah ia yang tanahnya dibuat pabrik jerami. Dengan demikian kau ialah orang-orang tak berdaya yang harus merelakan tanahnya dijual dengan harga murah demi pembangunan.
Siapakah aku yang terdapat dalam baris pertama bait keempat? Semut, ulat, dan burung pelatukkah aku tersebut? Ataukah justru penyair sendiri sebagai wakil dari persona protagonis?
Andaikan aku itu ialah semut, ulat, dan burung pelatuk maka saksi atas tindakan perampasan tanah rakyat itu justru para binatang yang bukan manusia. Terjadilah sindiran yang amat tajam atas perilaku manusia: saat manusia tidak memiliki rasa kemanusiaan, justru binatanglah yang bisa merasakan kepedihan hati manusia karena tanahnya yang dirampas itu.
Andaikan aku itu justru penyair sendiri sebagai wakil dari persona protagonis maka puisi di atas menjadi semacam suara yang lahir dari kejujuran seseorang yang peduli terhadap lingkungannya. Kejujuran dan keberanian memperjuangkan kebenaran yang semakin pudar itu ternyata masih bisa lahir dari suara-suara penyair.

4. Memahami majas
Majas dapat diartikan sebagai kekayaan bahasa seseorang (awam maupun sastrawan) yang dimanfaatkan dalam berkomunikasi (lisan maupun tulisan) untuk mencapai efek-efek tertentu, baik efek semantik maupun efek estetik.
Secara umum terdapat majas perbandingan, majas penegasan, majas sindiran, dan majas pertentangan. Personifikasi, metafora, asosiasi, metonimia, simbolik, tropen, litotes, eufemisme, hiperbola, sinekdok, alusio, dan perifrasis tergolong majas perbandingan. Sedangkan pleonasme, repetisi, tautologi, paralelisme, simetri, klimaks, antiklimaks, inversi, retoris, dan eksklamasio termasuk majas penegasan. Yang dikategorikan majas sindiran ialah ironi, sinisme, dan sarkasme. Sedangkan yang tergolong majas pertentangan ialah paradoks, kontradiksio in terminis, dan antitesis.
Menganalisis majas dalam puisi berarti kita menanyakan: (1) jenis majas apa saja yang terdapat dalam puisi; (2) alasan penyair memilih majas tersebut; dan (3) efek semantik dan estetik yang disebabkan pemilihan majas itu.
Kita kembali pada puisi Suripan Sadi Hutomo di atas.
Pada bait pertama puisi tersebut ada baris Apakah kau hanya dibohongi? Baris tersebut bermajas retoris. Mengapa demikian? Sebenarnya pernyataan tersebut tidak lagi memerlukan jawaban karena pertanyaannya tersebut tidak lagi memerlukan jawaban karena jawabannya sudah amat jelas bahwa pemilik tanah itu memang dibohongi. Pertanyaan di atas semakin mempertegas posisi si lemah dan posisi si kuat.
Dalam bait ketiga terdapat majas paralelisme anafora yaitu perulangan frase telah ditebang pada awal setiap baris. Perulangan tersebut dimaksudkan untuk menghadirkan kesan intensitas tinggi terhadap frase telah ditebang itu. Itu berarti bahwa sudah begitu banyak yang ditebang dan dipangkas atas nama pembangunan yang justru menyengsarakan sebagian besar rakyat. Paralelisme semacam itu juga mampu menciptakan irama tertentu karena kemerduan bunyi yang ditimbulkannya.
Penegasan itu juga terdapat pada majas klimaks yang terdapat pada bait ketiga tersebut. Perhatikan urutan telah ditebang pohon kedondong dan maoni, pohon-pohon hijau trembesi, pohon-pohon pakisaji, dan puncaknya ialah telah ditebang jiwa manusia.
Bentuk telah ditebang pohon kedondong dan maoni juga bermajas inversi karena predikat terletak di depan subjek. Meletakkan predikat (dalam hal ini frase telah ditebang) pada awal baris jelas untuk memberikan tekanan pada frase tersebut. Mengapa demikian? Karena persoalan kesewenang-wenangan semacam itu amatlah terlihat dan menonjol pada saat puisi itu disusun.

5. Memahami baris dan bait
Baris merupakan ciri visual puisi, sedangkan bait merupakan perwujudan kesatuan makna dalam puisi. Fungsi bait mirip fungsi paragraf dalam karangan paparan. Setiap bait mengandung satu pokok pikiran.
Bait pertama puisi Suripan Sadi Hutomo di atas berisi sebuah pertanyaan apakah tanah milik rakyat yang dijual demi pembangunan itu telah mendapatkan ganti rugi secara layak atau justru tidak mendapatkannya sama sekali.
Bait kedua mengandung gagasan bahwa persekutuan kita dengan orang-orang asing yang dilakukan semata-mata untuk kepentingan ekonomi kelompok tertentu justru hanya akan menyengsarakan rakyat.
Bait ketiga menegaskan bahwa rakyat telah ditebang kemanusiaannya, juga jiwanya.
Bait keempat menunjukkan justru alamlah, justru binatanglah yang telah menjadi saksi kerakusan dan kesewenang-wenangan manusia. Hati manusia telah beku untuk saling peduli.
Bait kelima menanyakan sekali lagi secara sinis bahwa benarlah rakyat telah mendapatkan ganti rugi atas tanahnya yang dikorbankan dalam pembangunan.
Bait keenam secara sunyi penyair menegaskan bahwa ia siap menjadi saksi.

6. Memahami tipografi dan enjambemen
Tipografi ialah ukiran bentuk, artinya ialah bagaimana puisi itu diungkapkan secara grafis oleh penyairnya. Pemakaian huruf kapital dan tanda baca juga merupakan bagian dari ikhwal tipografi.
Baris-baris puisi Suripan Sadi Hutomo itu selalu dimulai dengan huruf kapital dan tanpa titik pada setiap akhir baris, kecuali tanda tanya pada akhir baris Apakah kau hanya dibohongi?
Mengapa Suripan menulis grafis puisinya semacam itu? Bisa jadi huruf kapital pada awal baris menandai bahwa kehidupan (rakyat) itu sebenarnya telah dimulai dengan langkah atau program yang serba pasti. Lalu mengapa tidak diakhiri dengan tanda titik? Karena hari esok tetap saja merupakan teka-teki, muara kehidupan mereka belumlah jelas.
Puisi tersebut dikemas dengan pola kwatren (puisi empat seuntai). Pola semacam itu mengingatkan kita pada pola-pola klasik. Akibatnya ada kesan lama dan amat tradisional. Kesan semacam itu sengaja dibangun oleh Suripan Sadi Hutomo untuk menggambarkan kesederhanaan masyarakat miskin. Nah, itulah hubungan tipografi dengan makna puisi.
Sedangkan enjambemen merupakan pemenggalan secara cermat yang dilakukan penyair terhadap baris-baris puisi, dan hubungan antarbaris dalam puisi itu.
Suripan Sadi Hutomo dalam puisinya di atas memang tidak melakukan pemenggalan yang tak berdasarkan kaidah bahasa. Pemenggalan yang terdapat pada baris Apa kau telah dapat ganti rugi/ Dari tanahmu yang dibuat pabrik jerami merupakan pemenggalan secara fraselogis. Keliaran tidak terdapat dalam puisi Suripan Sadi Hutomo itu karena, sekali lagi, Suripan dalam konteks masyarakat tradisional dalam puisi di atas ingin menunjukkan bahwa masyarakat itu pada umumnya amatlah patuh dan taat pada aturan yang telah disepakati bersama, pada konvensi yang berlaku. Bandingkan dengan puisi berikut ini.

MENGEMBARAKAN RUH
Seharusnya aku kembarakan ruhku
Di rimba-rimba angkasa. Rambahi
Rumput luntas segar dan mata air
Mencari ganti air susu ibu
Sebelum kering

Adik, kenalilah namaku ini
Perahlah isi ruhku setibaku kembara
Dan kita menghisap payudara laut
Sambil membaca lintasan kabut

(Leres Budi Santoso, 1989)

Perhatikan pemenggalan yang dilakukan Leres dalam puisinya. Simak saja bait apertama: Kalimat seharusnya aku kembarakan ruhku di rimba-rimba angkasa dipenggal menjadi seharusnya aku kembarakan ruhku/ di rimba-rimba. Dan kalimat Rambahi rumput luntas segar dan mata air dipenggal manjadi rambahi/ rumput luntas segar dan mata air. Untuk apa itu semua? Untuk menonjolkan unsur bahasa yang dianggap penting karena makna dan pesannya yaitu unsur di rimba-rimba dan unsur rumput luntas segar.

7. Memahami makna dan amanat
Berdasarkan analisis kita terhadap judul, latar, kata ganti, majas, baris dan bait, serta tipografi dan enjambemen barulah kita dapat menyimpulkan makna dan amanat puisi.
Sebagai contoh kita kembali pada puisi Suripan Sadi Hutomo.
Puisi Apa Kau Telah Dapat Ganti Rugi di atas menempatkan si aku lirik (bisa penyair atau pribadi lain yang peduli terhadap lingkungan masyarakat tertindas) bersama dengan alam menjadi saksi atas korban pembangunan. Penebangan kemanusiaan sangat memprihatinkan, tetapi anehnya terus berlangsung tanpa putus-putusnya. Itulah kurang lebih makna puisi tersebut. Lalu apa amanatnya, yaitu pesan penyair yang secara implisit terkandung dalam puisi itu? Tentu saja kita diharapkan untuk lebih memperhatikan nasib masyarakat kecil yang dengan dalih pembangunan tanah sedikit yang mereka miliki tergusur tanpa ganti rugi yang pantas.

8. Contoh Penafsiran Puisi

SETELAH KEMATIAN ISTRI
Oleh Tengsoe Tjahjono

Syahrir Latif adalah penyair kelahiran Silungkang Sumatera Barat, 3 Juni 1940. Saat istrinya wafat ia amat kehilangan. Kesedihannya ia tuliskan dalam beberapa puisinya. Berikut ini salah satu puisi yang ditulisnya.
SENJA PERTAMA SETELAH KAU BERANGKAT

Lepas lohor, siang tadi, kau berangkat ke Karet (1)
Aku mengantarmu ke ujung jalan (2)

Waktu senja lampu-lampu menyala (3)
Masih seperti sediakala (4)
Lalu, azan magrib (5)
Aku dan anak-anak shalat di ruang tengah (6)
Di shaf kedua, setelah tahiyat: kau pun di sana (7)

(Syahril Latif, 1978)

Puisi Latif ini berjudul Senja Pertama Setelah Kau Berangkat. Ada dua hal yang perlu ditanyakan atas judul itu, pertama: siapa kau dalam judul itu; kedua: kau itu berangkat ke mana.
Dalam baris (1) ada kalimat kau berangkat ke Karet. Karet adalah kuburan di Jakarta. Jadi, tampaknya kau berangkat ke pemakaman, atau kau dimakamkan karena sudah meninggal. Lalu siapa kau? Pada baris (6) terbaca kalimat Aku dan anak-anak shalat di ruang tengah. Ungkapan ini tampak ditujukan pada seseorang yang tidak ada di antara mereka ialah istri bagi aku lirik atau ibu bagi anak-anak mereka. Dengan demikian judul di atas mengisyaratkan perihal suasana hati aku lirik sehari setelah istrinya menghadap Sang Khaliq.

Antara Kehilangan dan Syukur
Puisi Latif ini terkesan amat bersahaja. Kebersahajaan itu tampak pada pemilihan kata, majas, dan tipografinya. Kesederhanaan ini menjadikan puisi itu hanya berupa deskripsi perasaan aku lirik terhadap kematian istrinya.
Puisi ini terdiri atas dua bait, bait pertama merekam keadaan lepas lohor saat sang istri diberangkatkan ke pemakaman; bait kedua menuliskan suasana senja saat aku lirik shalat berjamaah bersama anak-anaknya. Pada bait pertama sang istri hadir sebagai jenasah yang akan dimakamkan, pada bait kedua sang istri hadir dalam bentuk bayangan dalam kenangan.
Ada dua latar waktu yang memiliki sugesti suasana berbeda yaitu: lepas lohor dan senja. Lepas lohor memberikan suasana saat matahari mulai tergelincir menuju ufuk barat. Matahari baru saja terik. Artinya, sang istri aku lirik wafat pada usia yang masih amat produktif. Matahari sedang terang-terangnya memberikan cahayanya kepada bumi. Kepergian matahari atau sang istri yang begitu tiba-tiba tentu amat menyedihkan.
Latar waktu yang lain ialah senja. Pergeseran dari sore ke malam. Suasananya cenderung remang dan lembut. Saat itu manusia mulai istirahat. Bahkan, saat itu dengan sholat magrib manusia bersyukur dan memuji Allah atas nikmat yang diterimanya hari itu. Senja memberikan sugesti romantis dan sekaligus religius. Dalam konteks kematian sang istri tampaknya aku lirik pada akhirnya menerima takdir itu dengan syukur. Dia menyadari bahwa Allah telah memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.
Betapa sederhananya ungkapan Waktu senja lampu-lampu menyala. Tampaknya lampu bukan sekadar bermakna alat penerangan, tetapi bisa jadi Cahaya Illahi yang menerangi kegelapan jiwa aku lirik saat ditinggal mati istrinya. Mirip ungkapan Amir Hamzah tentang Tuhan: Kaulah kandil kemerla/ pelita jendela di malam gelap.
Ungkapan Aku mengantarmu ke ujung jalan juga amat sederhana. Ujung jalan bukan sekadar bermakna bagian ujung dari sebuah jalan, tetapi peristiwa kematian itu sendiri, akhir hayat. Aku lirik terkesan setia mendampingi sang istri saat sakit bahkan sampai saat sang maut menjemput. Aku lirik terkesan selalu memberikan motivasi kepada sang istri, memberikan semangat kepada sang istri apa pun yang akan menimpanya. Puisi ini, banyak memakai metafora-metafora sederhana.
Kesederhanaan itu juga tampak dalam penggarapan irama. Penyair membangun irama puisinya dengan mengulang bunyi /a/ berkali-kali, amat linear. Jarang muncul bunyi-bunyi kontras yang melahirkan kejutan-kejutan irama. Hal itu tampak misalnya dalam baris-baris: Aku dan anak-anak shalat di ruang tengah/Di shaf kedua, setelah tahiyat: kau pun di sana. Perulangan bunyi /a/ memberikan nuansa pasrah dan berserah.


BAHAN PELATIHAN
1. Sebagai sebuah dunia lambang puisi menewarkan pelbagai kemungkinan makna. Jelaskan maksud pernyataan tersebut.
2. Mampukah pembaca atau apresiator menafsirkan makna puisi sesuai dengan makna yang diharapkan oleh penyair? Jelaskan!
3. Untuk mampu memahami puisi, pembaca atau apresiator harus memahami kode bahasa, kode budaya dan kode sastra. Jelaskan maksud pernyataan itu!
4. Apakah maksud pernyataan bahwa judul merupakan lorong untuk menuju makna puisi?
5. Mengapa kia perlu memahami latar yang terdapat dalam puisi saat kita menafsirkan puisi?
6. Tanpa memahami kata ganti yang terdapat dalam puisi apresiator dapat terjebak pada penafsiran yang kurang tepat. Mengapa demikian?
7. Bait merupakan kesatuan makna. Bagaimana dengan puisi yang hanya terdiri atas satu baris saja?
8. Analisislah puisi berikut ini untuk memahami makna dan amanatnya !

DIMENSI SAMUDRA
Ikan paling besar makan yang besar
ikan besar makan yang kecil
ikan kecil makan yang terkecil
sedang yang terkecil lebih siap dimakan
daripada cari makan
(Saiful Hadjar, 1992)

9. Analisislah pula puisi berikut ini untuk memahami makna dan amanatnya !

LANSKAP KESEDIHAN
Tak kuingat bagaimana hari kemarin bermula
dirimu hanyut dalam kepekatan,
lumpur yang menggila
dan perasaan hidup seperti padang pasir kering

Apa yang tersisa dari keheningan,
pisau-pisau menghunus pada wajahmu,
betapa bayang-bayang tubuh terkoyak kemunafikan
Di jantungmu, isyarat-isyarat yang kugemakan
tumbuh dan terhancurkan,
anganku gagal melawan pusaran angin

Musim panas terbunuh oleh lagu-lagu keajaiban,
tentang kenangan lekuk tubuh dan kecantikanmu,
kini hanya sebuah kamar kosong,
semua bendera masa lalu membakar fantasiku
pada bukit-bukit keinginan
menjadi matahari yang buta dan terasing

Betapa maut datang dengan keagungannya,
monumen-monumen ganjil dari semua jalan raya,
karena hari esok adalah sampah dari pikiran,
menjadi pembunuh atau yang terbunuh

Tetapi mengapa pisau tak bermakna,
kekejaman tak terucapkan lewat kata-kata,
hari-hari kemarin yang kugali
kini menjadi pintu-pintu yang tertutup

Manakala kupejamkan mata, angan-anganku
bersayap
menuju angkasa kelam
sebuah ketakutan yang nyaris runtuh,
siang hari seperti burung-burung di langit lepas

Kukekalkan gairah dalam surga
betapa semua kesedihan kini terkepung
oleh lolong-lolong anjing.

(W.Haryanto, 1997-1998)

KUMPULAN MATERI BAHASA INDONESIA

TEKNIK BERPIDATO

Seorang pecinta tulisan saya di sebuah rubrik koran lokal melontarkan pertanyaan bagaimana mengatasi grogi pada saat bicara di depan umum (publik)? Meski ia sudah mempersiapkannya sebaik mungkin tetap saja grogi. Masalah grogi adalah masalah yang dialami oleh siapa saja yang sedang belajar bicara di depan publik (selanjutnya saya sebut bicara). Keterampilan ini adalah keterampilan proses, sebuah keterampilan yang tidak datang seketika. Artinya, bila ingin mengusainya diperlukan banyak berlatih dan berlatih.

Untuk mengupas masalah grogi dan cara mengatasinya saya akan menggunakan dua pendekatan. Pendekatan pertama saya menggunakan pendekatan neurologisyakni bagaimana pikiran kita mencerna “keberadaan publik” (audience); dan pendekatan kedua adalah pendekatan praktis yakni bagaimana kiat-kiat praktis menghadapi grogi. Setidaknya, dua pendekatan itu sudah saya praktikkan dalam hidup saya. Saya dulu yang pemalu luar biasa (bayangkan dulu saya tidak berani bilang “Kiri”pada saat naik bus/angkutan umum. Takut/malu kalau banyak orang yang nengok ke arah saya). Kini saya sudah terbiasa bicara di depan publik, bahkan menjadi pembicara publik dan motivator yang dibayar.

Baik, selanjutnya saya jelaskan pendekatan pertama, kenapa secara neurologis(syaraf otak) seseorang bisa menjadi grogi. Seseorang menjadi grogi atau bahkan sebaliknya menjadi senang bila di depan publik itu sangat tergantung bagaimana syaraf otak merespon atau menanggapi sesuatu yang berada di luar, yaitu –dalam hal ini– audience (publik). Perilaku (grogi, takut, senang dan lain-lain) merupakan hasil dari respon pikiran kita. Kalau kita merespon/menanggapi sesuatu di luar adalah sesuatuyang menakutkan, maka pikiran (syaraf) segera mengolahnya menjadi sebuah ketakutan. Sebaliknya, kalau kita meresponnya sesuatu yang menyenangkan, maka semua sel-sel dan jutaan syaraf segera mengolahnya menjadi hal yangmenyenangkan.

Lebih kongkritnya begini. Kalau Anda membayangkan jeruk nipis (sesuatu yangberada di luar Anda) terasa kecut, maka syaraf otak segera membayangkannya rasa kecut itu. Bahkan dengan hanya membayangkan saja air liur bisa keluar sebagai respon terhadapnya. Sebaliknya, kalau Anda membayangkan buah anggur yang segar, baru keluar dari kulkas, syaraf otak segera membayangkannya buah manis yang menyegarkan. Begitulah cara pikiran kita bekerja, atau meresponnya. Bila Anda menanggapinya dengan negatif maka pikiran bekerja dengan cara negatif, milyaran sel syaraf bekerja untuk memperkuat respon negatif Anda. Bila Anda meresponnya dengan cara positif, maka seluruh jaringan syaraf bekerja sekuat tenaga untuk memperkuat respon positif Anda.

Audience (publik) bukanlah buah jeruk nispis yang kecut atau buah angguryang manis menyegarkan. Audience adalah sesutau yang netral sifatnya.”Manis” dan “kecut”-nya, arau “menakutkan” (yang membuat Anda grogi) atau”menyenangkan” sangat tergantung bagaimana Anda meresponnya. Ketika Anda meresponnya sebagai seuatu yang “menakutkan” syaraf otak segera bekerja dengan cara yang negatif. Hasilnya mejadi negatif. Syaraf otak segera bekerja untuk menemukan sejumlah alasan negatif untuk meyakinkan bahwa audience itu “menakutkan”.

Alasan-alasan yang ditemukan oleh pikiran negatif berupa:
1) audience terlalu banyak dan banyak orang yang sudah pintar bicara, maka saya kurang pede; 2) audience akan meneriaki “huuuuuuu..?” bila saya salah;
3) audience akan mempergunjingkan saya bila saya salah;
4) saya akan malu bila apa yang saya sampaikan tidak menarik;
5) saya akan malu bila saya salah dalam bicara nanti dan;
6) masih banyak alasan negatif yang mengantarkan Anda menjadi semakin tidak percaya diri atau grogi. Hasilnya, keringat dingin keluar, gemetar, bicara tidak lancar dan salah-salah terus selama bicara. Pada saat seperti itu, pikiran sibuk memikirkan audience yang “menakutkan” ketimbang memimikirkan materi yang sedang di sampaikan.

Akan menjadi berbeda hasilnya bila Anda meresponnya secara positif. Pikran Anda akan segera mencarikan sejumlah alasan positif yang menguatkanAnda tampil lebih percaya diri. Anda akan tampil lebih percaya diri bila memandang audience sebagai:
1) sekelompok manusia yang sedang memberikan kesempatan baik pada Anda untuk bicara;
2) mereka tidak akan menghukum bila Anda keliru;
3) keliru dalam berlatih bicara adalah hal yang wajar yang dialami oleh setiap orang;
4) mereka juga belum tentu memiliki keberanian untuk bicara;
5) kalau pun ia diberi kesempatan bicara ia pasti melakukan kesalahanseperti Anda;
6) dalam sejarah belum ada audience yang “mencemooh” pembicara bila dalam menyampaikannya secara santun dan;
7) ini adalah kesempatan terbaik untuk berlatih bicara. Dengan kata lain, audiene bukan menjadi beban pikiran selama Anda bicara. Bila perlu Anda cuek-bebek (tapi sopan) selama bicara.

Ketika Anda telah mengusai audience dengan cara respon positif sepertitersebut di atas, pikiran Anda tinggal fokus pada materi. Perlu dicatat bahwa mengapa seorang pembicara grogi karena pikirannya selamabicara sibuk memikirkan audiencenya yang dianggap “menakutkan”. Menakutkan atau tidaknya sangat tergantung bagaimana pikiran kita “menafsirkannya”.Bila menafsirkannya sebagai hal yang tidak menakutkan, maka pikiran akan lancar, fokus pada topik, bicara pun lancar tanpa beban grogi.

Semua yang saya jelaskan di atas adalah mengunakan pendekatan neurologis. Selanjutnya saya menggunakan pendekatan praktis dalam mengatasi grogi. Sebelum saya memberikan tips bagaimana cara mengatsi grogi saat pidato perlu saya ingatkan kembali bahwa keterampilan bicara (pidato) adalah keterampilan proses. Tidak ada orang yang langsung menjadi ahli bicara. Semuanya diawali dari malu, gemetar dengan keringat dingin, grogi dan sejuta rasa lainnya. Jangankan bagi yang belum pernah pengalaman, seorang yang sudah pengalaman pun kadang- kadang masih dihinggapi rasa kurang pede dan grogi. Jadi kalau menuggu sampai tidak ada rasa grogi, dibutuhkan waktu dan jam terbang yang lama. Butuh proses.

Cara-cara berikut ini adalah cara praktis yang saya gunakan bagaimanamengatasi grogi.
1. Tingkatkan rasa percaya diri (pede). Kalau kita pede, keberanian meningkat, tetapi kalau belum apa-apa sudah takut dulu, rasa pede mengecil. Akibatnya sudah grogi dulu sebelum bicara. Untuk bisa meningkatkan rasa pede, coba sebelum Anda bicara, Anda membayangkan seorang tokoh pintar bicara yang menjadi idola Anda. Setelah membayangkan secara jelas, anggap saja dia merasuk dalam jiwa Anda yang membantu Anda pada saat bicara. Anggap saja dia yang bicara, tapi bukan Anda.
2. Berani bicara kapan dan dimana saja bila ada kesempatan tampil didepan umum. Jangan takut salah dan takut ditertawakan, bicara dan bicaralah.Kalau Anda tidak pernah mencobanya, maka tidak pernah punya pengalaman. Jangan berpikir, benar-salah, bagus-tidak, mutu-tidak, selama bicara. Pokoknya, Anda sedang uji nyali, berani atau tidak. Ketika Anda berani mencobanya, berarti nyali Anda hebat. Semakin sering Anda lakukan, semakin kuat nyalinya dan tidak takut lagi. Pokoknya Anda harus berani malu. 3. Mulailah dari kelompok kecil. Berlatihlah bicara pada kelompok-kelompok kecil dulu seperti karang taruna, kelompok belajar, pertemuan RT/RW. Bicaralah sebisanya dan jangan buang kesempatan. Yang seperti ini sudah saya lakukan, saya mulai dari kelompok belajar, panitia seminar, dan acara-acara pengajian. Lama-kelamaan saya biasa. Ingat Anda bisa karena biasa.
4. Tulis dulu sebagai persiapan. Sebelum bicara, alangkah baiknya ditulis dulu topik dan urutan penyampaiannya. Sebab, tanpa ditulis dulu, biasanya lupa saat bicara dan menjadikan materinya tidak runtut.

Ada dua cara dalam menulis, menulis lengkap kemudian tinggal membaca atau tulis pokok-pokonya saja. Bila Anda menulis lengkap akan sangat membantu Anda bicara, tetapi keburukannya membosankan. Apalagi intonasi bacanya jelek.Yang baik adalah pokok- pokok saja, kemudian Anda menguraiakannya saat bicara, tetapi keburukannya, Anda bisa lupa tentang datailnya.

5. Akan lebih baik kalau memiliki kebiasaan menulis. Menulis apa saja,cerita, artikel, surat atau catatan harian. Catatan harian akan sangatmembantu. Kenapa menulis? Karena dengan menulis adalah cara efektif untukmembuat sebuah “bangunan logika”, sebuah bangunan yang masuk akal. Bila Anda terbiasa menuliskan topik-topik yang masuk akal, maka akan membantu pada saat bicara. Tinggal memanggil ulang saja.

6. Perbanyak membaca. Orang bicara atau menulis, tidak lepas dari kegiatan membaca. Dengan banyak membaca menjadi banyak pengetetahuan yang dapat dijadikan acuan pada saat bicara atau menulis. Kebuntuan dalam bicara terjadi karena tidak saja grogi tetepi juga karena terbatasnya acuan(informasi) yang dimilikinya.

7. Janganlah menjadi pendiam saat ada diskusi atau debat. Bicaralah, jangan pikirkan Anda menang atau kalah dalam berdebat, tetapijadikannlah media debat menjadi media pembelajaran dalam mengasahketerampilan bicara. Juga, biasakanlah berdsiskusi, jangan hanya menjadi pendengar yang baik (diam saja) tapi Anda harus menjadi pembicara yang baik.

8. Rajin mengevaluasi diri sehabis bicara. Karena berbicara merupakan keterampilan proses, maka sebaiknya rajin mengevaluasi diri setiap saat sehabis bicara. Seringkali (pengalaman saya) saya merasa tidak puas dengan hasil akhir bicara. Selalu ada saja kekurangannya, banyak topik yang lupa tidak tersampaikan. Kekurangan ini harus menjadi catatan untuk tampil lebih baik pada kesempatan mendatang.

9. Komitmen untuk terus berlatih. Tiada sukses tanpa latihan terus menerus. Tiada juara tanpa banyak latihan. Tiada bicara tanpa grogi bila hanya tampil (berlatih) satu atau dua kali saja. Bicaralah saat adakesempatan bicara, karena keterampilan berbicara hanya dapat diperoleh dengan “berbicara” bukan dengan cara “belajar tentang”. Satu ons praktik bicara lebih baik dari pada satu ton teori berbicara. Selamat mencoba.





CARA BERDEKLAMASI

Seperti telah dijelaskan bahawa berdeklamasi itu membawakan pantun, syair dan sajak atau puisi. Kemudian apakah cukup hanya asal membawakan sahaja? Tentu tidak! Berdeklamasi, selain kita mengucapkan sesuatu, haruslah pula memenuhi syarat-syarat lainnya. Apakah syarat-syarat itu? Sebelum kita berdeklamasi, kita harus memilih dulu pantun, syair, sajak apa, yang rasanya baik untuk dideklamasikan. Terserah kepada keinginan masing-masing.
Yang penting pilihlah sajak atau puisi, pantun atau syair yang memiliki isi yang baik dan bentuk yang indah dideklamasikan. Mengenai hal isi tentunya dapat minta nasihat, petunjuk dan bimbingan daripada mereka yang lebih berpengalaman dan berpengetahuan atau ahli dalam bidang deklamasi.

Kalau kita sudah memilih sebuah puisi misalnya, tentu saja boleh lebih dari sebuah. Hal ini sering terjadi dalam sayembara yang dikira harus terdiri puisi wajib dan puisi pilihan. Nah, sesudah itu, lalu apa lagi yang harus kita perbuat? Maka tidak boleh tidak harus mentafsirnya terlebih dahulu. MENAFSIR PUISI

Apakah puisi yang kita pilih itu berunsur kepahlawanan, keberanian, kesedihan, kemarahan, kesenangan, pujian dan lain-lain? Kalau puisi yang kita pilih itu mengandung kepahlawanan, keberanian dan kegagahan, maka kitapun harus mendeklamasikan puisi tersebut dengan perasaan dan laku perbuatan, yang menunjukkan seorang pahlawan, seorang yang gagah berani. Kita harus dapat melukiskan kepada orang lain, bagaimana kehebatan dan kegagahan kapal udara itu. Bagaimana harus mngucapkan kata-kata yang seram dan menakutkan.
Sebaliknya kalau saja puisi yang kita pilih itu mengadung kesedihan, sewaktu kita berdeklamasi haruslah betul-betul dalam suasana yang sedih dan memilukan, bahkan harus bisa membuat orang menangis bagi orang yang mendengar dan melihat kita sedih, ketika dideklamasikan menjadi sebuah puisi yang gembira, bersukaria atau sebaliknya. Tentu saja hal-hal seperti itu harus dijaga benar-benar. Kerana itu, harus berhati-hati, teliti, tenang dan sungguh-sungguh dalam menafsir sebuah puisi.

Bacalah seluruh puisi itu berulang-ulang sampai kita mengerti betul apa-apa yang dikandung dan dimaksud oleh puisi tersebut. Juga kata-kata yang sukar dan tanda-tanda baca yang kurang jelas harus difahami benar-benar, Jika sudah dimengerti dan diselami isi puisi itu, barulah kita meningkat ke soal yang lebih lanjut.

MEMPELAJARI ISI UNTUK MENDEKLAMASI PUISI
Cara mengucapkan puisi itu tak boleh seenaknya saja, tapi harus tunduk kepada aturan-aturannya: di mana harus ditekankan atau dipercepatkan, di mana harus dikeraskan, harus berhenti, dimana harus dilambatkan atau dilunakkan, di mana harus diucapkan biasa dan sebagainya. Jadi, bila kita mendeklamasikan puisi itu harus supaya menarik, maka harus dipakai tanda-tanda tersendiri:
——- Diucapkan biasa saja
/ Berhenti sebentar untuk bernafas/biasanya pada koma atau di tengah baris
// Berhenti agak lama/biasanya koma di akhir baris yang masih berhubungan artinya dengan baris berikutnya
/// Berhenti lama sekali biasanya pada titik baris terakhir atau pada penghabis san puisi
^ Suara perlahan sekali seperti berbisik
^^ Suara perlahan sahaja
^^^ Suara keras sekali seperti berteriak
V Tekanan kata pendek sekali
VV Tekanan kata agak pendek
VVV Tekan kata agak panjang
VVVV Tekan kata agak panjang sekali
____/ Tekanan suara meninggi
____ Tekanan suara agak merendah
\
Cara meletakkan tanda-tanda tersebut pada setiap kata masing-masing orang berbeda tergantung kepada kemahuannya sendiri-sendiri. Dari sinilah kita dapat menilai: siapa orang yang mahir dan pandai berdeklamasi.

Demikianlah, setelah tanda-tanda itu kita letakkan dengan baik dan dalam meletakkannya jangan asal meletakkan saja, tapi harus memakai perasaan dan pertimbangan, seperti halnya kalau kita membaca berita: ada koma, ada titik, tanda-tandanya, titik koma dan lain-lain.
Kalau tanda-tanda itu sudah diletakkan dengan baik, barulah kita baca puisi tersebut berulang-ulang sesuai dengan irama dan aturan tanda itu. Dengan sendirinya kalau kita sudah lancar benar, tekanan-tekanan, irama-irama dan gayanya takkan terlupa lagi selama kita berdeklamasi.

PUISI HARUS DIHAFAL
Mendeklamasi itu ialah membawakan puisi yang dihafal. Memang ada juga orang berdeklamasi puisi di atas kertas saja. Cara seperti itu kurang enak kecuali jika untuk siaran pembacaan puisi di radio atau rakaman. Tetapi deklamasi itu selalu saja didengar dan ditonton orang. Mana mungkin para penonton akan senang, melihat kita berdeklamasi kalau muka kita tertunduk melulu terus menerus kala mendeklamasikan puisi itu. Tentu saja membosankan bukan?

Makanya sebaik mungkin deklamator harus menghafal puisi yang mahu dideklamasi itu. Caranya ulangilah puisi itu berkali-kali tanpa mempergunakan teks, sebab jika tidak demikian di saat kita telah naik pentas, kata-kata dalam puisi itu tak teringat atau terputus-putus.
Betapa lucunya seorang deklamator, ketika dengan gaya yang sudah cukup menarik di atas panggung, di muka penonton yang ramai, tiba-tiba ia lupa pada kalimat-kalimat dalam puisi. Ia seperti terhenti, terpukau, mau bersuara tak tentu apa yang harus diucapkan. Mau mengingat-ingat secara khusuk terlalu lama. Menyaksikan keadaan demikian itu sudah tentu para penonton akan kecewa. Bagi sideklamator sendiri akan mendapat malu. Oleh kerana itu dihafalkanlah puisi itu sebaik-baiknya sampai terasa lancar sekali. Setelah dirasakan yakin, bahawa sebuah puisi telah sanggup dibaca di luar kepala, barulah berlatih mempergunakan mimik atau “action”

Cara menghafal tentu saja dengan cara mengingatnya sebaris demi sebaris dan kemudian serangkap demi serangkap disamping berusaha untuk mengerti setiap kata/ayat yang dicatatkan kerana hal itu menjadi jelasnya maksud dan tujuan isi puisi itu. DEKLAMASI

BUKAN UCAPAN SEMATA
Deklamasi bukan ucapan semata. Deklamasi harus disertai gerak-gerak muka, kalau perlu dengan gerak seluruh anggota badan atau seluruh tubuh, tetapi yang paling penting sekali ialah gerak-gerak muka. Dengan ucapan-ucapan yang baik dan teratur, diserta dengan gerak geri muka nescaya akan bertambah menarik, apa lagi kalau ditonton. Dari gerak geri muka itu penonton dapat merasakan dan menyaksikan mengertikan puisi yang dideklamasikan itu. Apakah puisi itu mengandung kesedihan, kemarahan, kegembiraan dan lain-lain.
Hanya saja dalam melakukan gerak geri itu jangan sampai berlebih-lebihan seperti wayang orang yang bergerak ke sana ke mari, sehingga mengelikan sekali. Berdeklamasi secara wajar, tertib dan mengesankan.

CARA MENGHAKIMI
Untuk mudahnya bagi seorang deklamator/deklamatris melengkapi dirinya dalam mempersiapkan kesempurnaan berdeklamasi, maka seorang calon harus mengetahui pula hal-hal yang menjadi penilaian hakim dalam suatu sayembara deklamasi. Yang menjadi penilaian hakim terhadap pembawa puisi atau deklamator meliputi bidang-bidang seperti berikut: A.

PENAMPILAN/PERFORMANCE
Sewaktu pembawa puisi itu muncul di atas pentas, haruslah diperhatikan lebih dahulu hal pakaian yang dikenakannya. Kerapian memakai pakaian, keserasian warna dan sebagainya akan menambahkan angka bagi si pembawa puisi. Tentu saja penilaian pakaian ini bukan terletak pada segi mewah tidaknya pakaian itu, tetapi dalam hal kepantasan serta keserasiannya. Kerana itu, perhatikanlah pakaian lebih dahulu sebelum tampil di atas pentas. Hindarikan diri dari kecerobohan serta ketidakrapian berdandan.

B. INTONASI/TEKANAN KATA DEMI KATA
Baris demi baris dalam puisi, sudah tentu tidak sama cara memberikan tekanannya. Ini bergantung kepada kesanggupan dipembawa puisi menafsirkan tiap-tiap kata dalam hubungannya dengan kata lainnya. Sehingga ia menimbulkan suatu pengungkapan isi kalimat yang tepat. Kesanggupan sipembawa puisi memberikan tekanan-tekanan yang sesuai pada tiap kata yang menciptakan lagi kalimat pada baris-baris puisi, akan memudahkan mencapai angka tertinggi dalam segi intonasi.

C. EKSPRESI/KESAN WAJAH
Kemampuan sipembawa puisi dalam menemukan erti dan tafsiran yang tepat dari kata demi kata pada tiap baris kemudian pada kelompok bait demi bait puisi akan terlihat pada kesan air muka atau wajahnya sendiri. Ada kalanya seorang pembawa puisi tidak menghayati isi dan jiwa tiap baris puisi dalam sebuah bait, sehingga antara kalimat yang diucapkan dan airmuka yang diperlihatkan tampak saling bertentangan.

Jadi, penghayatan itu sangat penting dan ia harus dipancarkan pada sinar wajah si pembawa puisi. Misalnya sebuah bait dalam puisi yang bernada sedih haruslah digambarkan oleh sipembawa puisi itu melalui airmukanya yang sedih dan bermuram durja. D.

APRESIASI/PENGERTIAN PUISI
Seorang pembawa puisi akan dinilai mempunyai pengertian terhadap sesuatu puisi, manakala ia sanggup mengucapkan kata demi kata pada tiap baris puisi disertai kesan yang terlihat pada airmukanya. Jika tidak berhasil, dikatakannya sipembawa puisi itu belum mempunyai apresiasi atau apresiasinya terhadap puisi itu agak kurang. Dalam istilah umumnya apresiasi diterjemah lebih jauh lagi sebagai penghayatan.

Seorang pendeklamator yang baik/ia harus menghayati makna dan isi puisi yang mahu dideklamasikan dan tanpa menghayatinya, maka sudah tentu persembahannya bakal hambar, lesu dan tak bertenaga.

E. MIMIK/ACTION
Mimik atau action dalam sebuah deklamasi puisi sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan suasana pembacaan puisi. Seorang pembawa puisi yang berhasil ia akan mengemukan sesuatu action atau mimik itu sesuai dengan perkembangan kata demi kata dalam tiap baris dan tidak bertentangan dengan jiwa dan isi kata-kata kalimat dalam puisi.

Terjadinya kontradiksi antara apresiasi dan action menimbulkan kesan yang mungkin bisa menjadi bahan tertawaan penonton, Hal ini harus dipelajari sebaik-baiknya oleh sipembawa puisi. Tanpa hal itu, ia tak mungkin bisa mndapatkan angka terbaik dalam pembawaan puisi.

Sebagi contoh: ketika dipembawa sajak menyebut “dilangit tinggi ada bulan” tetapi mimik kedua belah tangan menjurus ke bumi, Hal ini akan menimbulkan bahan tertawaan bagi penonton, mana mungkin ada bulan di bumi, tentu hal itu tidak mungkin sama sekali. Betapapun bulan selalu ada di langit. Inilah yang dimaksud betapa pentingnya pembawa sajak menguasai apresiasi puisi, sehingga dapat menciptakan mimik yang sesuai dengan keadaan isi dan jiwa puisi itu..



HAMBATAN MEMBACA DAN CARA MENGATASINYA

Ada beberapa hambatan yang sering dijumpai pada orang-orang tertentu di dalam membaca sehingga orang tersebut tidak bisa membaca secara cepat dan efisien. Hambatan-hambatan ini banyak berkaitan dengan kebiasaan membaca yang dipraktekkan sejak masa kecil dan terbawa-bawa sampai dewasa.
Beberapa hambatan tersebut di antaranya adalah:

1. Membaca Bersuara
Membaca bersuara artinya mengucapkan setiap kata yang dibaca, baik keras maupun lunak. Untuk mengetahui apakah kita membaca bersuara atau tidak, letakkan tangan di leher pada sat membaca. Bila ada getaran di leher berarti kita mengeluarkan suara. Ada orang yang membaca dengan melafalkan kata demi kata yang dibaca. Mungkin orang tersebut kurang puas jika kata-kata yang dibaca itu tidak diucapkan. Cara membaca seperti ini selain akan mengganggu orang lain, juga akan memperlambat pembacaan. Lambat karena kata demi kata dibaca atau satu demi satu. Di samping itu, pembaca akan) mudah lelah karena meng-ucapkan kata demi kata yang dibaca itu me-ngeluarkan banyak energi. (bandingkan de-ngan orang yang sedang mengajar di depan kelas, atau yang sedang berpidato).
Untuk mengatasi ini dapat dilakukan dua cara. Pertama dengan merapatkan bibir ketika membaca; dan kedua, dengan menguyah permen karet.

2. Menggerakkan Bibir
Ada lagi yang membaca dengan menggerakkan bibir. Bibirnya komat-kamit meng-ikuti bunyi huruf di dalam teks bacaan.
Cara membaca sepeti ini selain kurang enak di pandang mata (karena bibir terus komat-kamit) juga kurang cepat dan efisien karena si pembaca pada dasarnya membaca kata demi kata (bahkan huruf demi huruf) yang ada di dalam teks bacaan. Cara membaca dengan komat-kamit juga bisa membuat bibir cepat lelah, rahang atas dan bawah pegal, dan pada akhirnya mempengaruhi daya tahan baca.
Lakukan hal-hal berikut ini untuk mengatasi hambatan membaca dengan gerakan bibir:
1. Rapatkan bibir kuat-kuat, tekankan lidah ke langit-langit mulut.
2. Kunyahlah permen karet.
3. Ambil pensil atau sesuatu yang lain yang cukup ringan, lalu jepit dengan kedua bibir (bukan gigi), usahakan
4. pensil itu tidak bergerak.
5. Ucapkan berulang-ulang, “satu, dua, tiga” atau “”tu, wa, ga.”
6. Bersiullah dengan tanpa mengeluarkan suara.

3. Menunjuk Kata
Sebagian lagi ada yang membaca de-ngan menunjuk-nunjuk teks yang sedang dibacanya dengan jari atau alat tulis. Cara membaca seperti ini juga kurang cepat dan efesien karena si pembaca melakukan pembacaan kata demi kata. Di samping itu, cara membaca dengan menunjuk-nunjuk ini juga bisa membuat tangan cepat lelah dan pada akhirnya bisa mempengaruhi daya tahan baca.
Untuk mengatasi hambatan ini bisa dilakukan dua cara berikut. Pertama dengan memasukan tangan yang suka menunjuk-nunjuk itu ditugaskan memegang buku yang sedang dibaca (sekaligus jari telunjuk dan jempol ditugaskan untuk menyiapkan dan membuka `halaman berikut’ yang akan dibaca).

4. Menggerakkan Kepala
Kebiasaan membaca dengan menggerakkan kepala merupakan bawaan sejak kecil. Gerakan ini sangat menghambat kecepatan membaca. Seharusnya kita cukup menggerakkan bola mata pada saat membaca. Mata kita mempunyai kemampuan melihat beberapa objek benda dalam satu keumpulan. Demikian juga dalam membaca, kita mampu melihat beberapa kelompok kata sekaligus sehingga untuk melihat kata yang berdekatan kita tidak perlu menggerakkan kepala, tetapi cukup dengan menggerakkan mata.

Untuk mencegah adanya gerakan kepala pada saat membaca, lakukan hal-hal berikut ini.
1. Letakkan telunjuk jari ke pipi dan sandarkan siku tangan ke meja selama membaca. Apabila terasa tangan terdesak oleh gerakan kepala, maka hentikanlah gerakan kepala Anda.
2. Peganglah dagu seperti memegang jenggot dan bila kepala bergerak, segera hentikan.
3. Letakkan ujung jari telunjuk di hidung. Bila terasa kepada Anda bergerak, segerak hentikan.

5. Regresi
Regresi artinya kembali ke belakang atau melihat kembali kata yang telah terlewati, padahal
seharusnya dalam membaca mata terus bergerak ke depan atau ke kanan dan tidak kembali ke
kata di sebelah kiri. Hal ini sangat menghambat kecepatan membaca. Regreasi tidak membuat
pemahaman kita menjadi lebih baik akan tetapi justru bisa menjadi kacau. Keinginan melihat ke
belakang antara lain karena kurang percaya diri, merasa kurang tepat menangkap arti, merasa
kehilangan sesuatu, atau salah baca pada sebuah kata.

Untuk mengatasi regresi dapat ditempuh cara berikut ini.
1. Tanamkan kepercayaan diri. Jangan berusaha mengerti setiap kata atau kalimat di paragraf itu. Jangan terpaku pada detail. Teruslah membaca tanpa tergoda untuk kembali ke belakang.
2. Hadapi bahan bacaan. Apa yang sedang Anda baca, bacalah terus dan yang sudah tertinggal, tinggalkan saja. Teruskan membaca dan perhatikan apa yang sedang Anda hadapi.
3. Terus saja baca hingga kalimat selesai. Apa yang Anda rasa tertinggal nanti akan Anda temui lagi. Teruslah membaca, maka Anda akan mengetahui bahwa Anda benar-benar tidak kehilangan sesuatu.

Senin, 19 Desember 2011

MATERI APRESIASI SASTRA

Apresiasi sastra merupakan kegiatan menggauli (Karya sastra) untuk memahami isi, makna dan kandungan nilai-nilai yang ada dalam karya sastra.
Manfaat membaca (apresiasi) karya sastra : mendapatkan hiburan, mendapat ilmu pengetahuan, mendapat nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra, mendapat inspirasi dalam kehidupan yang bijak dan arif, mendapat pengetahuan tentang pola kehidupan masyarakat.
Pendekatan Karya Sastra :
1.Pendekatan Parafrastis : setrategi pemahaman kandungan makna dalam karya sastra dengan mengungkapkan kembali gagasan yang disampaikan pengarang dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang berbeda. Prinsip dasar dilakukan pendekatan parafrastis; gagasan yang sama dapat disampaikan lewat bentuk yang berbeda, simbol konotatif dalam karya sastra diganti dengan bentuk lain yang mengandung keteksaan makna,pengungkapan gagasan yang sama dengan menggunakan media dan bentuk yang berbeda.
2.Pendekatan Emotif : suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur emosi dari perasaan pembac. Prinsip dasar; adanya pandangan bahwa karya sastra merupakan bagian karya seni untuk dinikmati sehingga memberikan hiburan dan kesenangan.
3.Pendekatan Analitis : pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang menampilkan imajinasi ide-idenya melalui unsur instrinsik yang ada dalam karya sastra. Prinsip dasar; karya sastra dibentuk oleh elment-elment tertentu, karya sastra mempunyai fungsi tertentu, adanya karakteristik dalam karya sastra.
4.Pendekatan Historis : suatu pendekatan yang menekankan pemahaman biografi pengarang, latar belakang peristiwa mengapa karya sastra tercipta, serta perkembangan kehidupan sastra itu sendiri dari zaman ke zaman. Prinsip dasar; adanya anggapan bahwa karya sastra merupakan bagian dari zamannya.
5.Pendekatan Sosiopsikologis : pendekatan yang berusaha memahami latar belakang kehidupan sosial budaya, kehidupan masyarakat maupun sikap pengarang terhadap lingkungan kehidupan atau zaman pada saat karya sastra diwujudkan. Prinsip dasar; adanya anggapan bahwa karya sastra merupakan kreatif manusia yang terlibat langsung dengan kehidupan.
6.Pendekatan Dedaktis : pendekatan yang berusaha memahami gagasan, tanggapan evaluatif maupun pengarang terhadap kehidupan. Prinsip dasar; adanya anggapan bahwa karya sastra merupakan kreatif manusia yang mempunyai nilai-nilai kehidupan.
Struktur luar dan Struktur dalam sebuah puisi
a.Struktur luar dalam puisi
1.Bunyi dan Irama
Menurut bunyinya
•Rima sempurna yaitu bila suku akhir sama bunyinya.
•Rima tidak sempurna yaitu sebagian suku akhir sama bunyinya.
•Asonansi yaitu perulangan bunyi vokal dalam satu kata.
•Aliteri yaitu perulangan bunyi konsonan setiap kata secara berurutan.
•Disonansi yaitu bila konsonan membentuk kata sama tapi vokal berbeda.
•Rima mutlak yaitu bila seluruh bunyi kata-kata itu sama.
Menurut letaknya dalam baris
•Rima depan yaitu bila kata permulaan baris sama
•Rima tengah yaitu bila kata atau suku kata ditengah baris sama
•Rima akhir yaitu perulangan kata terletak pada akhir baris
•Rima tegak yaitu bila kata akhir baris sama dengan kata permulaan baris.
•Rima datar yaitu bila perulangan terdepan pada baris.
Menurut letaknya dalam bait
•Rima silang yaitu baris pertama berirama dengan baris ke tiga dan ketiga berirama dengan empat
•Rima berpeluk yaitu baris pertama berirama dengan baris ke empat dan baris kedua berirama dengan baris ke tiga.
•Rima rangkai yaitu bila baris terakhir keseluruhan memilki rima yang sama.
•Rima kembar yaitu apabila rima selalu berpasang-pasangan.
•Rima patah yaitu bila satu baris tidak mengikuti rima baris lainya.
2.Diksi atau pemilihan kata yang tepat
3.Baris dalam puisi
4.Bait dalam puisi
Baris berfungsi sebagai upaya menciptakan efek artistik dan membangkitkan makna.
5.Tipografi dalam puisi
Tipografi merupakan lukisan bentuk puisi yang berupa pemakaian huruf besar dan tanda baca yang berfungsi menciptaka keindahan visual.
b.Struktur dalam (makna)
•Sense yaitu sesuatu yang diciptakan oleh penyair lewat puisi yang dihadirkan dan berupa gambaran umum dari apa yang hendak ditemukan oleh penyairnya.
•Subjeck Matter yaitu pokok pikiran yang ditemukan penyair lewat puisi yang diciptakanya sehingga gambaran umum telah diperinci dalam satuan-satuan pokok pikiran.
•Feeling yaitu sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkan.
•Tone yaitu sikap penyair terhadap pembaca atau penikmat karya puisi ciptaanya.
•Total of meaning yaitu keseluruhan makna yang terdapat dalam puisi
•Theme ( tema ) yaitu ide dasar dari suatu puisi yang bertindak sebagai inti keseluruhan makna dalam puisi.
Struktur dalam (lapis bentuk) prosa : plot, karakter, latar, titik kisah dan gaya.
Struktur luar (lapis makna) prosa : Foreshadowing, tegangan ( Suspense ), nada, suasana dan tema.

MATERI LEKSIKIGRAFI

Leksikografi merupakan suatu kegiatan dalam bidang linguistik yang bersifat praktik salah satunya adalah penyusunan kamus.
Kamus adalah deretan kata beserta maknanya yang disertai dengan arti morfologisnya dan disusun secara alfabetis.
Fungsi kamus : mengetahui makna kata, mengetahui asal-usul kata, mengetahui ejaan kata, mengetahui informasi mengenai kata lainnya.
Jenis-jenis kamus :
1.Berdasarkan bahasa sasaran : kamus eka bahasa (kamus yang sumbernya = bahasa sasarannya), kamus dwibahasa (kamus yang sumbernya ≠ bahasa sasaran), kamus aneka bahasa (kamus yang sumbernya dijelaskan dalam tiga bahasa atau lebih).
2.Berdasarkan ukurannya : kamus besar (kamus yang memuat semua kosakata), kamus terbatas (kamus yang terdiri dari kamus suku dan kamus pelajar).
3.Berdasarkan isinya : dapat dibedakan menjadi kamus umum dan khusus.
Kamus umum meliputi : kamus umum bahasa Indonesia (kamus yang memuat seluruh kata secara umum), kamus populer (kamus yang memuat kata-kata populer), kamus kontemporer.
Kamus khusus meliputi : kamus istilah (kamus yang memuat disiplin ilmu pada bidang ilmu tertentu), kamus ejaan (kamus yang berisi tentang ejaan yang benar), kamus akronim (kamus yang berisi singkatan kata), kamus antonim (kamus berisi lawan kata), kamus sinonim (kamus yang berbentuk gabungan kata).
Perbedaan kamus dengan ensiklopedia antara lain :
1.Kamus bertujuan menerangkan makna kata sedangkan ensiklopedia menerangkan secara ringkas pengetahuan tentang acuan kata.
2.Kamus memberi penjelasan tentang makna kata baik definisi sinonimi (berupa kata dengan kata) maupun definisi formal (berupa bentuk frase). Sedangkan ensiklopedia menjelaskan makna setiap lema dengan definisi yang bersifat menguraikan lebih mendetail.
Salah satu contoh dalam perbedaan kamus dengan ensiklopedia adalah : kata gadis dalam bahasa Indonesia dijelaskan dengan kata perawan (definisi sinonimi) atau wanita yang belum menikah (definisi formal). Dalam praktiknya tidak semua dijelaskan dengan definisi sinonimi mengingat adanya kaidah semantik yang menyatakan beda bentuk akan menyebabkan adanya beda makna. Dalam hal ini mau tidak mau harus memberikan makna disetiap lema dengan cara menguraikan seperti dalam ensiklopedia.
3.Kamus tidak terlalu mendetail dalam penjelasan makna atau tidak perlu menggunakan banyak contoh, sedangkan ensiklopedia selalu mendetail disetiap makna dan sering menggunakan contoh.
Perbedaan Tesaurus dengan kamus dan ensiklopedia : tesaurus tidak menjelaskan makna dan asal-usul kata serta tidak disusun secara alfabetis.
Langkah-langkah penyusunan kamus : mengumpulkan kosa kata sebanyak-banyaknya, mencari kata dasar, mengambil kata dasar sesuai dengan kamus yang akan disusun, membuat tabel untuk mengelompokkan kata, mengurutkan kata, mencari makna disetiap kata, mencari tata bentukan makna, mencari asal-usul kata, mencari jenis kata.
Kendala-kendala penyusunan kamus antara lain :
1.Kendala teoristis : pemahaman tema, pemahaman etimologis kata (asal-usul kata), pemahaman tentang sistem morfologi terutama afiksasi, pemahaman tentang semantik.
2.Kendala praktis : pembuatan format, pengelompokan kata, penulisan atau pengetikan, peletakan tanda maupun penggunaan tanda baca, pengurutan secara alphabetis.

METODE PENELITIAN

1.Tempat penelitian merupakan tempat di mana proses studi yang digunakan sebagai media pemecahan masalah berada. Tempat penelitian dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tempat eksperimen dilakukan dan didepan laboratorium, misalnya di sekolah, di kelas dan dimasyarakat.
2.Yang dimaksud dengan populasi adalah semua anggota kelompok manusia atau individu yang hidup bersama disuatu tempat dan secara terencana menjadi target kesimpulan dari akhir penelitian. Populasi dapat dibedakan menjadi populasi target (target population) dan populasi akses (access population).
3.Sampel adalah bagian dari populasi yang dijadikan oleh peneliti sebagai sumber informasi. Persyaratan yang perlu ada pada sampel adalah persyaratan mewakili atau representativenes dan jumlah yang memadai.
4.Sifat-sifat metode pengambilan sampel yang ideal adalah metode sampling yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.Dapat menghasilkan gambaran yang dapat dipercaya dari seluruh populasi yang diteliti.
b.Dapat menentukan hasil dengan presisi penyimpangan baku yang kecil.
c.Sederhana dan dapat dilaksanakan.
5.Dalam penelitian pendidikan atau penelitian sosial jumlah besarnya anggota sampel dapat ditentukan melalui formula empiris, monogram herry king, atau dengan tabel yang relevan.
6.Teknik mengambil sampel dilakukan setelah besarnya jumlah sampel penelitian dapat ditentukan.
7.Teknik sampling dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu teknik sampling probabilitas dan tenik sampling nonprobabilitas.
a)Teknik sampling probabilitas dapat dikelompokan menjadi empat macam yaitu, sampling stratifikasi, sampling klaster, samplig acak, dan sampling sistimatis.
b)Teknik nonprobabilitas dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu, tektik memilih sampling secara kebetulan, memilih sampel bertujuan, memilih sampel secara kuota, memilih sampel dengan getok tular.
8.Teknik sampling probabilitas adalah teknik sampling yang menggunakan prinsip probabilitas atau teori kemungkinan. Dengan teknik ini, semua subjek dalam populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggita sampel. Sedangkan teknik sampling nonprobabilitas merupakan teknik sampling yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama untuk dipilih menjadi anggota sampel.
9.Kita dianjurkan menggunakan teknik sampling probabilitas apabila seorang peneliti melakukan studi dengan menggunakan prinsip penelitian kuantitatif dengan dasar filosofi positivisme.
10Teknik sampling yang paling populer digunakan adalah teknik sampling acak atau random sampling, karena semu anggota dalam populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi sampel penelitian.

MK. Metode Penelitian
Tujuan penelitian bahasa antara lain :
1.Menemukan dan mengembangkan teori, model dan strategi dalam pendidikan bahasa
2.Menerapkan, menguji, mengevaluasi kemampuan teori dalam memecahkan masalah pendidikan bahasa
3.Mendeskripsikan dan menjelaskan hubungan berbagai isu dan pikiran yang terkait dengan masalah bahasa
4.Memecahkan masalah pendidikan bahasa
5.Menemukan faktor yang mempengaruhi masalah pendidikan bahasa
6.Membuat keputusan atau kebijakan.
Pentingnya penelitian pendidikan bahasa :
a.Bagi pendidik : untuk melaksanakan proses pendidikan yang berkualitas diperlukan keputusan profesional melalui sumber pengalaman pribadi, para ahli, intuisi maupun akal sehat.
b.Bagi masyarakat : untuk menentukan kebijakan dalam kegiatannya.
c.Bagi penentu kebijakan : sebagai fungsi penelitian dasar, fungsi terapan, fungsi evaluasi.
Sifat penelitian pendidikan bahasa : bertujuan, sistematis, objektif, logis, empiris, reduktif, replicable dan transmitable.
Proses penelitian : pemilihan masalah secara umum, peninjauan masalah, penemuan masalah khusus, penentuan rancangan penelitian dan metodologi, pengumpulan data, analisis data dan penyaringan hasil, pemberian simpulan atau ringkasan.
Tipologi Penelitian pendidikan bahasa :
a.Penelitian berdasarkan tujuan : penelitian dasar (mengembangkan teori) dan penelitian terapan (mencari solusi yang dimanfaatkan manusia)
b.Penelitian berdasarkan jenis data : penelitian kualitatif (penelitian yang dilakukan dengan cara tatap muka langsung melalui data, sekema dan gambar) dan penelitian kuantitatif (penelitian yang dilakukan dengan menyajikan hasil-hasil statistik yang di wakili oleh angka-angka).
Alasan memilih metode kualitatif : kemantapan berdasarkan pengalaman penelitian, tidak terjebak dengan teknik statistik, alasan sifat masalah yang diteliti.
c.Penelitian berdasarkan aspek metode : penelitian eksperimen, penelitian subjek tunggal, penelitan deskriptif, penelitiaan komperatif, penelitian survey, studi kasus, studi kritis, penelitian non interaktif.
Penelitian deskripsi meliputi : permasalahan penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian, landasan teori, metode penelitian yang digunakan.
Masalah dalam penelitian pendidikan bahasa :
1.Menentukan masalah
2.Kriteria dalam menetapkan masalah :
a.Apakah masalah berguna untuk dipecahkan?
b.Apakah masalah dapat diteliti?
c.Apakah peneliti mempunyai kemampuan dalam pemecahan masalah?
d.Apakah masalah menarik untuk dipecahkan?
e.Apakah masalah memberikan sesuatu yang baru?
3.Sumber masalah penelitian : bacaan, pertemuan ilmiah, laporan hasil penelitian, pengamatan, pengalaman individu dan kelompok
4.Merumuskan masalah
Contoh perumusan masalah deskripsi :
1.Bagaimana kecenderungan pola sintaksis dan pola semantik wacana ilmiah terpilih?
2.Berapa besar kritik sastra yang termuat dalam buku bahasa dan sastra indonesia yang dilandasi oleh teori yang jelas.
5.Tujuan penelitian : secara umum tujan penelitian memberikan gambaran bagi mahasiswaa guna mengembangkan strategi pembelajaran yang efektif.
Secara khusus : memperoleh informasi tentang kendala yang dihadapi, memperoleh informasi tentang dampak-dampak tertentu, memperoleh masukan untuk perbaikan ke yang lebih baik.
6.Manfaat Penelitian : penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik dari wawasan maupun motivasi pembaca.
7.Sumber bacaan : suatu sumber yang digunakan saat berlangsungnya penelitian baik dalam pengumpulan data dan menganalisis data.
8.Merumuskan hipotesis
9.Penetrasi asumsi-asumsi
Penyusunan proposal : judul penelitian, latar belakang masalah, rumusan masalah, teori dan tinjauan pustaka, metode penelitian.
Pengumpulan data dalam tahap operasional : sumber data, teknik sampling, observasi.

MATERI KRITIK SASTRA

RINGKASAN MATERI KRITIK SASTRA

Sebelum mempelajari kritik sastra hendaknya perlu untuk mengetahui tiga jenis studi sastra :
1.Teori sastra : bidang pembahasan sastra yang mengkaji pengertian, konsep, prinsip, dan kriteris saastra.
2.Sejarah sastra : kegiatan menelaah perkembaangan sastra mulai dari lahir sampai hingga masa kini baik dari banyaknya hasil karya, tokoh yang terlibat maupun ciri-ciri masing-masing angkatan.
3.Kritik sastra : (HB.Jassin; tulisan berbentuk esai yang mempermasalahkan tentang baik buruknya karya sastra) (Panuti Sudjiman; pembicaraan atau tulisan yang membicarakan, menafsirkan, mengarahkan dan menilai karya sastra) (Rachmat Djoko Pradopo; studi sastra untuk menghakimi karya sastra serta menilai lalu memutuskan).
Pendekatan (Jenis) kritik sastra berdasarkan tipe/orientasi :
1.Kritik Memisis(tik) : kritik yang memandang bahwa karya sastra merupakan suatu tiruan atas gambaran dari dunia dan kehidupan.
2.Kritik Pragmatik : kritik yang memandang bahwa karya sastra yang ditulis memiliki tujuan mencapai efektif tertentu pada pembaca.
3.Kritik Ekspresif : kritik yang memandang bahwa karya sastra sebagai ekspresi luapan perasaan atau produk dari imajinasi penyair berdasarkan penekanan, gagasan dan perasaan.
4.Kritik Objektif : kritik yang menggambarkan produk sastra sebagai objek yang berdiri sendiri/objek mandiri dalam menganalisis dan menilai karya sastra.
Jenis-jenis kritik sastra dikelompokkan menjadi 4 :
1.Berdasarkan bentuknya
a.Kritik teoristik : kritik yang mengkaji pembahasan karya sastra melalui teori-teori tertentu.
b.Kritik terapan : kritik yang mengkaji keluesan atau kedalaman pembahasan karya sastra yang debedakan atas kritik impresionistik dan kritik Judisial.
2.Berdasarkan metodenya
a.Kritik Impresionistik : kritik yang mendiskripsikan ciri-ciri karakteristik bagian tertentu atau seluruh karya sastra berdasarkan kesan subjektif yang ditangkap kritikus.
(Abram mengungkapkan; dalam kritik ini tidak dituntut mengadakaan analisis secara njlimet, mendetail, mendalam dan sistematis).
b.Kritik Judisial : (abram); kritik yang berusaha menganalisis dan menjelaskan efek karya sastra berkenaan dengan subjek, organisasi, teknik dan gaya serta berdasarkan penilaian pada standart umum sastra yang diakui keunggulannya.
3.Berdasarkan tipe/orientasi
(Lihat Pendekatan (Jenis) kritik sastra berdasarkan tipe/orientasi yang ada diatas)
4.Berdasarkan corak dan penulisaan
a.Kritik sastrawan : kritik yang ditulis oleh para sastrawan, yang bercorak ekspresif dan impresionistik.
b.Kritik akademik : kritik yang ditulis oleh para akademik sastra dan bercorak ilmiah.
Aspek pokok kritik sastra :
(analisis; sarana penafsiran/interpretasi), (interpretasi; penafsiran semua aspek karya saastra), (Penilaian; keputusan/sikap baik buruknya karya sastra).
Kegunaan/fungsi kritik sastra :
1.Dapat membantu penyusunan teori sastra dan sejarah sastra.
2.Dapat membantu perkembangan kesusastraan suatu bangsa.
3.Dapat menguraikan (menganalisis, menginterpretasi, menilai) karya sastra.
Tahapan kritik sastra :
1.Tahapan Deskripsi : tahap pemaparan data.
a.Cerpen/novel : plot, tokoh, latar fisik ruang dan waktu, konflik dan lain-lain.
b.Puisi : ......bait, tiap bait......baris, tiap baris......kata. ditulis tahun.......
2.Tahapan Penafsiran : penangkapan makna karya sastra baik yang tersurat maupun yang tersirat.
Penafsiran judul/makna judul, penafsiran per bait.
Mengevaluasi cerpen :
1.Penokohan : tokoh utama dan bawahan, watak masing-masing tokoh, konflik antar tokoh.
2.Alur : jenis alur yang digunakan pengarang, tingkat kerumitan alur
3.Persoalan : persoalan apa yang diangkat pengarang? ada pemecahan atau tidak? Bagaimana sikap pemecahan persoalan tersebut?(adil, benar, wajar atau yang lain)
4.Evaluasi : mengungkapkan argument dari hasil 1, 2, dan 3.

PROFESIONALITAS GURU

KEDUDUKAN,FUNGSI, DAN TUJUAN
•Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar,pendidikan menengah, pendidikan anak usia dini pada jalur formal.
•Pengakuan ini dibuktikan dengan sertifikat pendidik.
•Berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran,juga berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Kedudukan guru sebagai tenaga profesional bertujuan
Untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional , yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Mahaesa,berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan tanggung jawab.

KOMPETENSI GURU(UURI 14,2005)
1.KOMPETENSI PEGAGOGIK
Guru memiliki pengetahuan yang luas serta mendalam tentang ilmu pendidikan dan pengajaran,melaksanakan nya dengan penuh tanggung jawab
1.Menguasahi karakteristik peserta didik dari aspek fisik,moral,spiritual,sosial,kultural,emosional, dan intelektual.
2.Menguasahi teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
3.Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu.
4.Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik.
5.Memanfaatkan teknologi informatika dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.
6.Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
7.Berkomunikasi secara efektif,empatik, dan santun dengan peserta didik.
8.Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
9.Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.
10.Melakukan tindakan reflektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

2.KOMPETENSI KEPRIBADIAN
Guru memiliki sikap kepribadian yang mantap sehingga mempu menjadi sumber identifikasi (keteladanan) bagi peserta didik. Jangan dapat memberi contoh, tetapi dapatlah dicontoh.
1.Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum,sosial, dan budaya nasional Indonesia.
2.Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
3.Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
4.Menunjukkan etos kerja,tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.
5.Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

3.KOMPETENSI SOSIAL
Guru menunjukkan kemampuan berkomunikasi sosial/berinteraksi, baik dengan peserta didik, maupun dengan teman sesama guru, dengan kepala sekolah, dengan karyawan sekolah, bahkan dengan masyarakat luas.
1.Bersikap inklusif,bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama,ras,kondisi fisik,latar belakang keluarga,dan status sosial ekonomi.
2.Berkomunikasi secara efektif,empatik, dan santun dengan sesama pendidik,tenaga kependidikan,orang tua,dan masyarakat.
3.Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya.
4.Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

4.KOMPETENSI PROFESIONAL
1.Menguasai materi,struktur,konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.
2.Menguasahi standar kompetensi dan kompetensi mata pelajaran yang diampu.
3.Mengembangkan materi pembelajaraan yang diampu secara kreatif.
4.Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.
5.Memanfaatkan teknologi informatika dan komunikasi untuk mengembangkan diri.

SIAPAKAH GURU?
•Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,mengajar,membimbing, mengarahkan,melatih,menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur formal,pendidikan dasar, dan menengah.

SEPULUH SIFAT GURU YANG DISUKAI SISWA (NASUTIONO)
1.Suka membantu dalam pekerjaan sekolah, menerangkan pelajaran dan tugas dengan jelas serta mendalam dan menggunakan contoh-contoh sewaktu mengajar.
2.Riang gembira,mempunyai rasa humor.
3.Bersikap akrab seperti sahabat merasa sebagai anggota dalam kelompok kelas.
4.Menunjukkan perhatian pada murid dan memahami mereka.
5.Berusaha agar pekerjaan sekolah menarik,membangkitkan keinginan belajar.
6.Tegas,sanggup menguasahi kelas,membangkitkan rasa hormat pada murid.
7.Tidak pilih kasih.
8.Tidak suka mengomel,mencela,mengejek,menyindir.
9.Betul-betul mengajarkan sesuatu yang berharga bagi murid.
10.Mempunyai pribadi yang menyenangkan.

.............POKOK E PENTING............

Diksi, dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau
pembicara. Arti kedua, arti "diksi" yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata - seni berbicara
jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya.
Arti kedua ini membicarakan pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya.
Fungsi dan yang mempengaruhi Diksi :
Hal-hal yang mempengaruhi diksi berdasar kemampuan pengguna bahasa :
·Serangkaian kalimat harus jelas dan efektif sehingga sesuai dengan gagasan utama.
·Cara dari mengimplementasikan sesuatu kedalam sebuah situasi .
·Sejumlah kosakata yang didengar oleh masyarakat harus benar-benar dikuasai.

Fungsi dari diksi :

· Untuk mencegah kesalah pahaman.
· Untuk mencapai target komunikasi yang efektif.
· Untuk Melambangkan gagasan yang di ekspresikan secara verbal.
· Supaya suasana yang tepat bisa tercipta.
·Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.

Diksi memiliki beberapa bagian; pendaftaran - kata formal atau informal dalam konteks sosial – adalah
yang utama. Analisis diksi secara literal menemukan bagaimana satu kalimat menghasilkan intonasi dan
karakterisasi, contohnya penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan gerakan fisik
menggambarkan karakter aktif, sementara penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan pikiran
menggambarkan karakter yang introspektif. Diksi juga memiliki dampak terhadap pemilihan kata dan
sintaks. Diksi terdiri dari delapan elemen :

Fonem
Fonem sebuah istilah linguistik dan merupakan satuan terkecil dalam sebuah bahasa yang masih bisa
menunjukkan perbedaan makna. Fonem berbentuk bunyi.
Misalkan dalam bahasa Indonesia bunyi [k] dan [g] merupakan dua fonem yang berbeda, misalkan
dalam kata "cagar" dan "cakar". Tetapi dalam bahasa Arab hal ini tidaklah begitu. Dalam bahasa Arab
hanya ada fonem /k/.
Sebaliknya dalam bahasa Indonesia bunyi [f], [v] dan [p] pada dasarnya bukanlah tiga fonem yang
berbeda. Kata provinsi apabila dilafazkan sebagai [propinsi], [profinsi] atau [provinsi] tetap sama saja.



Silabel
Suku kata atau silabel (bahasa Yunani: συλλαβή sullabē) adalah unit pembentuk kata yang tersusun dari
satu fonem atau urutan fonem. Sebagai contoh, kata wiki terdiri dari dua suku kata: wi dan ki. Silabel
sering dianggap sebagai unit pembangun fonologis kata karena dapat mempengaruhi ritme dan
artikulasi suatu kata.

Konjungsi
Konjungsi kata atau ungkapan yang menghubungkan dua satuan bahasa yang sederajat: kata dengan
kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, serta kalimat dengan kalimat. Contoh: dan, atau, serta.
Preposisi dan konjungsi adalah dua kelas yang memiliki anggota yang dapat beririsan. Contoh irisannya
adalah karena, sesudah, sejak, sebelum.


Nomina
Nomina atau kata benda adalah kelas kata yang menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua
benda dan segala yang dibendakan. Kata benda dapat dibagi menjadi dua: kata benda konkret untuk
benda yang dapat dikenal dengan panca indera (misalnya buku), serta kata benda abstrak untuk benda
yang menyatakan hal yang hanya dapat dikenal dengan pikiran (misalnya cinta).
Selain itu, jenis kata ini juga dapat dikelompokkan menjadi kata benda khusus atau nama diri (proper
noun) dan kata benda umum atau nama jenis (common noun). Kata benda nama diri adalah kata benda
yang mewakili suatu entitas tertentu (misalnya Jakarta atau Ali), sedangkan kata benda umum adalah
sebaliknya, menjelaskan suatu kelas entitas (misalnya kota atau orang).

Verba
Verba (bahasa Latin: verbum, "kata") atau kata kerja adalah kelas kata yang menyatakan suatu tindakan,
keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya. Jenis kata ini biasanya menjadi predikat
dalam suatu frasa atau kalimat. Berdasarkan objeknya, kata kerja dapat dibagi menjadi dua: kata kerja
transitif yang membutuhkan pelengkap atau objek seperti memukul (bola), serta kata kerja intransitive
yang tidak membutuhkan pelengkap seperti lari.

Infleksi
Adalah proses penambahan morpheme infleksional kedalam sebuah kata yang mengandung indikasi
gramatikal seperti jumlah, orang, gender, tenses, atau aspek.

Sabtu, 10 Desember 2011

...Temukan ARTINYA...

Seseorang dipertemukan dengan jalan dan cara yang tak pernah diduga oleh rasa,ditebak oleh musim dan direncanakan oleh waktu,semua murni karena Ketulusan Pertemuan itu sendiri...

Saat-saat indah itu bersama kita itulah keindahan dan Saat itu bukan jaminan keindahan yang akan datang jadi bersiaplah untuk sebuah Perpisahan...

Saat-saat menjalani hubungan,diantara mereka banyak kenangan yang tidak mungkin terlupakan dan itu sudah pasti!!karena itu memang keadaanya,wajar juga jika kenangan itu diselali tapi itu omong kosong krn sudah terjadi..

Akhir yang kita harap adalah kebersamaan selamanya....ya wajar tak ada yg ingin bercita-cita buruk semua pasti maunya hepi-hepi ae....hehehhehe...

Tapi,kadang jalan itu tidak mungkin terus lurus kawan,...kadang akhir perjalanan itu adalah titik persimpangan yang memaksa kita untuk saling berbelok arah yang sudah tidak mungkin lagi kita lewati bersama,dan disitulah proses dimana kita akan ditantang untuk berfikir dewasa,bijak dan Tanggung jawab,Ayo bisa tidak??? ato malah itu yang membuat orang terkapar...hahahahaha...

DiPersimpangan yang bercabang itu ada dua arah dimana arah itu adalah Petunjuk Dari yang Kuasa jika kita mampu Memaknai,tapi kadang kalau lagi Ngeblank banyak yang malah marah dan berkata Tuhan tidak adil...Ya maklum orang yang lagi kacau jadi bisa tiba-tiba menjadi setengah gila...hemmmmmmm sorry!!!!

Hai tidak semua yang menyakitkan itu Buruk teman,tapi kadang menyakitkan itu adalh keindahan yang begitu asyik untuk kita nikmati..

JALAN ini terlalu panjang kawan untuk kita sia-siakan untuk apa juga kau bermuram durja...smile dong!!!!Bangun dan bangkitlah mentari esuk masih terlalu indah untuk bisa kau nikmati dengan orang-orang yang ingin melihatmu tersenyum dan Berhasil melampaui kehidupan ini...

Harapan selalu ada untuk manusia yang percaya Tuhan Nya,,,,hari ini dengan jiwa yang lapang,hati yang ikhlas dan doa yang tulus aku ucapkan SELAMAT MENETESKAN AIR MATA UNTUK MASA LALU MU...TAPI INGAT SETELAH ITU BANGUNLAH...JODOH BUAT KALIAN SUDAH DIPERSIPAN DENGAN CUKUP SEMPURNA....

/////////////////GOOD LUCK FOR YOUR LIFE \\\\\\\\\\\\\\\

Rabu, 07 Desember 2011

Desember " MERDEKA "

Lama banget ya aku gak ngebuka blog Q ini maklumlah aku lagi puzing bgt ni....banyak sekali masalah yg sedang terjadi...yang palin menguras hati dan pikiran q adalah di Kuliah q....awalnya kita cuman pengin minta ketransparanan dana yang di tarik dari mahasiswa...eh,kok ujung2ny da ada penjelasan eh yg terjadi malah Diskriminasi pada mahasiswa ayng inggin keterbukaan itu,akhirnya ya gt dueh aku dan taman2 kini sedang memperjuangkan nasib kita semua dan berharap akan segera diganti koordinator yang baru.mohon doanya ya<<< ni mang awal kita berjuang membongkar kebobrokan yang ada...
Eh tapi seneng juga bisa nglakuin ini ada segi positifnya lho....tahu gak apa dengan begitu aku dan teman2 jadi makin solid dan makin pinter...hahaha...sapa tahu habis gini kita akan sukses menjadi apa gt...xixixixi...gak nyambung ya??? mf lagi erorrrrrrrrr....
Aku males bgt ni belajar soalnya lihat masalah yang numpuk kayak gini aku jadi gak konsent....gmn ya mengembalikan semangat belajarku lagi??????????
Bismillah........AYO WAHYU SEMANGAT////