Assalammu alaikum warrohmatullohi wabarrokatu..........................
salam kenal dan salam sayang..............
hallo,makasih ya dah kunjumg ke blog aku.mungkin masih banyak yang kurang lo dari blog ku ini maklum aku masih pemula..lok ada yang kurang lengkap dan ada yang salah.sebelumnya maaf za.......
Waalaikum salam warrohmatullohi wabarrokatu...............................

Jumat, 13 Mei 2011

PENGERTIAN KEINDAHAN.

Keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, (meskipun tidak semua hasil seni indahl, pemandangari alam (pantai, pegunungan, danau, bunga-bunga di lereng gunung), manusia (wajah, mata, bibir, hidung, rambut, kaki, tubuh), rumah (halaman, ta13nan, perabot rumah tangga dan sebagainya), suara, warna dan sebagainya. Keindahan adalah identik dengan kebenaran.
Menurut The Liang Gie dalam bukunya “G,a-ris Besar Estetik” (Filsafat Keindahan) dalam bahasa Inggris keindahan itu diterjemahkan dengan kata “beautiful”, Perancis “beau”, Italia dan Spanyol “bello”, kata-kata itu ber¬asal dari- bahasa Latin “bellum”. Akar katanya adalah ”bonum” yang berarti kebaikan kemudian mempunyai bentuk pengecilan menjadi’ ”bonellum” dan terakhir dipendekkan sehingga ditulis “bellum”.
Selain itu menurut luasnya dibedakan pengertian:
1. Keindahan dalam arti luas.
Selanjutnya The Liang Gie menjelaskan.bahwa keindahan dalam arti luas mengandung pengertian ide kebaikan. Misalnya Plato menyebut watak yang indah dan hukum yang indah, sedangkan Aristoteles merumuskan keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan.
. Jadi pengertian yang seluas-Iuasnya meliputi :
• keindahan seni
• keindahan alam
• keindahan moral
• keindahan intelektual.
2. Keindahan dalam arti estetik murni.
Keindahan dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik seorang dalam hubungannya dellgan se:gala sesuatu yang diserapnya.
3. Keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan.
Keindahan dalam arti yang terbatas, me~punyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut bendabenda yang dapat -diserap dengan penglihatan, yakni berupa keindahan bentuk dan warna. keindahan tersusun dari berbagai keselarasan dan kebalikan dari garis, warna, bentuk, nada, dan kata-kata. Ada pula yang berpendapat bahwa keindahan adalah suatu kumpulan hubungan-hubungan yang selaras dalam suatu benda dan di antara benda itu dengan si pengarnat.
b. Nilai estetik
Dalam rangka teori umum tentang nilai The Liang Gie menjelaskan bahwa, pengertian keindahan dianggap sebagai salah satu jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomi, nilai pendidikan, dan sebagainya. Nilai yang berhubungan dengan segala sesuatu yang tercakup dalam pengertian keindahan disebut nilai estetik. Dalam ”Dictionary of Sociology and Related Science” diberikan rumusan tentang nilai sebagai berikut :
‘”The believed Capacity of any object to saticgy a human desire. The Quality of any object which causes it be of interest to an individual or a group” (Kemampuan yang dianggap ada pada suatu benda yang dapat memuaskan keinginan manusia. Sifat dari suatu benda yang menarik minat seseorang atau suatu kelompok).
Hal itu berarti, bahwa nilai adalah semata-mata adalah realita psikologi yang harus dibedakan secara tegas dari kegunaan, karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada hendaknya itu sendiri. Nilai itu (oleh orang) dianggap terdapat pada suatu benda sampai terbukti letak kebenarannya.
Nilai itu ada yang membedakan antara nilai sub yektif dan obyektif,Tetapi penggolongan yang penting ialah:
- Nilai ekstrinsik
Nilai ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk sesuatu hal lainnya (”instrumental! Contributory value”), yakni nilai yang bersifat sebagai alat atau membantu contohnya puisi, bentuk puisi yang terdiri dari bahasa, diksi, baris, sajak, irama, itu disebut nilai ekstrinsik
- Nilai intrinsik
Nilai intrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu tujuan, ataupun demi kepentingan benda itu sendiri. Contohnya : pesan puisi yang ingin disampaikan kepada pembaca melalui (alat benda) puisi itu disebut nilai intrinsik .
B. Pengelompokan-pengelompokan pengerian keindahan
dilihat dari beberapa persepsi tentang keindahan berikut ini :
1. Keindahan adalah sesuatu yang rnendatangkan rasa menyenangkan bagi yang melihat (Tolstoy);
2. Keindahan adalah keseluruhan yang merupakan susunan yang teratur dari bagian-bagian yang saling berhubungan satu sarna lain, atau dengan keseluruhan itu sendiri. Atau, beauty is an order of parts in their manual relations and in their relation to the whole (Baumgarten).
3. Yang indah hanyalah yang baik. Jika belum baik ciptaan itu belurn indah. Keindahan harus dapat memupuk perasaan moral. Jadi ciptaan-ciptaan yang amoral tidak bisa dikatakan indah, karena tidak dapat digunakan untuk memupuk moral (Sulzer).
4. Keindahan dapat terlepas sarna sekali dari kebaikan (Winehelmann).
5. Yang indah adalah yang rnemiliki proporsi yang harmonis. Karena proporsi yang harrnonis itu nyata, maka keindahan itu dapat disamakan dengan kebaikan. Jadi, yang indah adalah nyata dan yang nyata adalah yang baik (Shaftesbury). .
6. Keindahan adalah sesuatu yang dapat mendatangkan rasa senang (Hume).
7. Yang indah adalah yang paling banyak mendatangkan rasa senang, dan itu adalah yang dalam waktu sesingkat-singkatnya paling banyak memberikan pengalaman yang menyenangkan (Hemsterhuis).
Dengan melihat demikian beragamanya pengertian keindahan, dan kita harus percaya bahwa yang di atas itu hanyalah sebagian kecil, boleh jadi akan rnengeeewakan kita yang menuntut adanya satu pengertian yang tunggal tapi yang memuaskan. Namun demikian, dari berbagai pengertian yang ada, sebenarnya, kita bisa menempatkannya dalam kelompok-kelompok pengertian tersendiri, Pengelompokan-pengelompokan yang bisa kita buat adalah sebagai berikut :
1. Pengelompokan pengertian keindahan berdasar pada titik pijak atau landasannya.
Dalam hal ini ada dua pengertian keindahan, yaitu yang bertumpu pada obyek dan subyek, Yang pertama, yaitu keindahan yang obyektif, adalah keindahan yang memang ada pada obyeknya sementara kita sebagaimana mestinya. Sedang yang kedua; yang disebut keindahan subyektif; adalah keindahan yang biasanya ditinjau dari segi subyek yang melihat dan menghayatinya. Di sini keindahan diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat menimbulkan rasa senang pada diri si penikmat dan penghayat (subyek) tanpa dicampuri keinginan-keinginan yang bersifat praktis, atau kebutuhan•kebutuhan pribadi si penghayat.
2. Pengelompokan pengertian keindahan dengan berdasar pada cakupannya.
Bertitik tolak dari landasan ini kita bisa membedakan antara keindahan sebagai kualitas abstrak dan keindalan sebagai sebuah bcnda tertentu yang memang indah. Perbedaan semacam ini lebih tampak, misalnya dalam penggunaan bahasa Inggris yang mengenalnya istilah beauty untuk keindahan yang pertama, dan istilah The Beautiful untuk pengertian yang kedua, yaitu benda atau hal•hal tertentu yang memang indah.
3. Pengelompokan pengertian keindahan berdasar luas-sempitnya.
Dalam pengelompokan ini kita bisa membedakan antara pengertian keindahan dalam arti luas, dalam arti estetik murni, dan dalam arti yang terbatas. Keindahan dalam arti luas, menurut The Liang Gie, mengandung gagasan tentang kebaikan. Untuk ini bisa dilihat misalnya dari pemikiran Plato, yang menyebut adanya watak yang indah dan hukum yang indah: Aristoteles yang melihat keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan
Dari apa yang dikemukakan di atas, ada hal bisa kita petik, yaitu: Pertama, keindahan menyangkut persoalan filsafati, sehingga jawaban terhadap apa itu keindahan sudah barang tentu bisa bermacam-macam. Kedua, keindahan sebagai pengertian mempunyai makna yang relatif, yaitu sangat tergantung kepada subyeknya.
Pengertian keindahan tidak hanya terbatas pada kenikmatan penglihatan semata-mata, tetapi sekaligus kenikmatan spiritual. Itulah sebabnya Al-Ghazali memasukkan nilai-nilai spiritual, moral dan agama sebagai unsur-unsur keindahan, di samping sudah . barang. tentu unsur-unsur yang lain.


















Memahami Bentuk Puisi
Dalam berbagai forum diskusi yang membahas tema tentang proses kreatif penulisan puisi selalu muncul pertanyaan, dihadapkan pada pertanyaan dari seorang siswa, mahasiswa, guru, maupun dosen., apakah menulis puisi bisa dipelajari?
Secara teknis, tentu saja menulis puisi bisa dipelajari sebagaimana kita belajar ilmu bela diri pencak silat. Masalah isi dan kualitas puisi semua itu sangat bergantung pada "jam terbang" dalam pengertian seluas-luasnya. Berkait dengan itu, memahami apa dan bagaimana bentuk puisi menjadi penting adanya, sebab ia berkait erat dengan apa yang ingin diekspresikan dan dikomunikasikan kepada publik, meski benar pada satu sisi ada juga kalangan penyair yang berpendapat bahwa menulis puisi adalah untuk puisi itu sendiri dan bukan untuk yang lainnya.
Ml
KARYA sastra pada dasarnya, termasuk puisi adalah produk dari kebudayaan yang sudah berumur panjang dan entah sejak kapan dimulainya. Dalam kebudayaan Sunda, penulisan puisi tradisional bisa dilacak lewat penulisan dangding. Salah seorang penyair Sunda kenamaan pada zamannya yang menulis puisi dalam bentuk dangding adalah Penghulu Haji Hasan Mustapa. Dalam sastra Indonesia, penulisan puisi tradisional bisa dilacak lewat pantun.
Ajip Rosidi menyebut puisi tradisional itu sebagai puisi nusantara. Dengan demikian, jelas bahwa menulis puisi dalam kehidupan manusia di Indonesia khususnya dan di dunia pada umumnya bukan merupakan kegiatan yang baru. Apa sebab? Karena masing-masing suku bangsa di berbagai belahan dunia mempunyai tradisi penulisan puisi yang satu sama lainnya berbeda. Akan tetapi, secaraesensial mempunyai makna yang sama, yakni berekspresi untuk menyatakan isi hatinya, entah ditujukan kepada Tuhan, alam, kekasih, atau kepada hal lainnya yang personal sifatnya.
Kekhasan puisi dibandingkan dengan teks yang lain, dalam hal ini dibandingkan dengan penulisan cerita pendek, novel, atau naskah drama, terletak pada rancang-bangunnva. Ketika puisi ditulis, yang diungkap penyair dalam larik-larik puisinya berupa kristalisasi dari pengalaman puitik, dan bukan menguraikan pengalaman puitik sebagaimana yang ditulis orang dalam bentuk cerita pendek, novel, atau naskah drama.
Bahwa apa yang disebut pengalaman puitik pada satu sisi erat kaitannya dengan fakta-fakta biografis yang dialami penyair saat ia menulis sejumlah puisi, itu memang tidak bisa dibantah. Namun demikian, pada sisi yang lain bisa dikatakan dengan tegas bahwa puisi bukanlah semata-mata uraian riwayat hidup sang pengarang secara nyata, melainkan hasil dunia rekaan yang dibentuk ulang lewat bahasa ungkap yang dikreasinya secara sungguh-sungguh.
Dalam konteks inilah saya bisa memahami dengan tegas, apa yang dikatakan Prof. Dr. A. Teeuw maupun Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, bahwa karya sastra, dalam hal ini puisi, merupakan dunia rekaan (fiksionalitas) yang bahan-bahan dasarnya berupa pengalaman puitik yang berdenyut di hati dan pikiran sang penyair. Apa yang disebut dengan pengalaman puitik pada sisi yang lain, disebut juga gagasan atau energi kreatif berupa ilham, apa pun namanya yang menggerakkan batin sang penyair untuk menuliskannya di atas kertas.
Jika di awal tulisan disebutkan bahwa secara teknis saya wajib hukumnya mengenal berbagai bentuk pengucapanpuisi, karena bahasa ungkap yang diekspresikan dalam puisi imaji sebagaimana yang dikembangkan penyair Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad sangat lain dengan penulisan puisi naratif sebagaimana yang ditulis penyair Rendra dan Taufiq Ismail.
Kedua bentuk pengucapan puisi tersebut, tentu saja sangat lain dengan bentuk penulisan puisi simbolik sebagaimana yang dikembangkan almarhum penyair Wing Kardjo, dan Abdul Hadi W.M. menyebut sejumlah nama sebagai contoh model pengucapan puisi, yang kini tumbuh dan berkembang dengan amat su-bumya di negeri ini.
Tiga model pengucapan puisi tersebut di atas tentu saja mempunyai perbedaan pula dengan pengucapan puisi mbeling yang digagas oleh penyair Jeihar. Suk-mantoro dan Remy Sylado. Demikian pula dengan pola pengucapan puisi yang dikembangkan oleh penyair Sutardji Calzoum Bachri yang berbasis pada mantra sebagai titik pijaknya. Puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri yang sebagian cenderung gelap itu, termasuk dalam kategori penulisan puisi untuk puisi itu sendiri bukan untuk yang lainnya.
Pendek kata, apa j-ang disebut puisi atau apa itu puisi sungguh banrak ragam dan jenisnya. Bahasa puisi pada satu sisi bisa dikatakan bukan merupakan bahasa yang lugas dan objektif, melainkan bahasa yang berperasaan dan subjektif. Berkait dengan itu, situasi bahasa yang diekspresikan penyair dalam puisi yang ditulisnya terkesan monolog, baik itu yang digambarkan melalui aku lirik maupun kau lirik. Sementara situasi bahasa yang diungkap dalam penulisan cerita pendek, novel, atau naskah drama cenderung dialog yang dimainkan lewat para tokoh yang direka oleh sastrawan-nya. (Soni Farid Maulana/"PR") "
Ringkasan Artikel Ini
Berkait dengan itu, memahami apa dan bagaimana bentuk puisi menjadi penting adanya, sebab ia berkait erat dengan apa yang ingin diekspresikan dan dikomunikasikan kepada publik, meski benar pada satu sisi ada juga kalangan penyair yang berpendapat bahwa menulis puisi adalah untuk puisi itu sendiri dan bukan untuk yang lainnya. Namun demikian, pada sisi yang lain bisa dikatakan dengan tegas bahwa puisi bukanlah semata-mata uraian riwayat hidup sang pengarang secara nyata, melainkan hasil dunia rekaan yang dibentuk ulang lewat bahasa ungkap yang dikreasinya secara sungguh-sungguh. Jika di awal tulisan disebutkan bahwa secara teknis saya wajib hukumnya mengenal berbagai bentuk pengucapanpuisi, karena bahasa ungkap yang diekspresikan dalam puisi imaji sebagaimana yang dikembangkan penyair Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad sangat lain dengan penulisan puisi naratif sebagaimana yang ditulis penyair Rendra dan Taufiq Ismail. Berkait dengan itu, situasi bahasa yang diekspresikan penyair dalam puisi yang ditulisnya terkesan monolog, baik itu yang digambarkan melalui aku lirik maupun kau lirik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar