Assalammu alaikum warrohmatullohi wabarrokatu..........................
salam kenal dan salam sayang..............
hallo,makasih ya dah kunjumg ke blog aku.mungkin masih banyak yang kurang lo dari blog ku ini maklum aku masih pemula..lok ada yang kurang lengkap dan ada yang salah.sebelumnya maaf za.......
Waalaikum salam warrohmatullohi wabarrokatu...............................

Kamis, 17 Maret 2011

........."SEMANTIK"Bahasa Indonesia................

Mata kuliah Semantik Bahasa Indonesia (berbobot 2 sks) adalah salah satu mata kuliah yang harus Anda pelajari dalam kelompok mata kuliah kebahasaan. Mata kuliah ini mencakup pembahasan tentang teori semantik secara umum dan sistem makna bahasa Indonesia. Keseluruhan bahasannya adalah:
1. hakikat makna kalimat;
2. cakupan studi semantik
3. ragam makna;
4. struktur makna leksikal;
5. relasi makna;
6. perubahan makna leksikal;
7. makna dalam penggunaan bahasa.

Ada beberapa manfaat yang dapat Anda peroleh dengan mempelajari dan menguasai mata kuliah Semantik Bahasa Indonesia. Pertama, secara langsung Anda akan mempunyai pengetahuan tentang makna bahasa Indonesia. Kedua, penguasaan semantik akan meningkatkan kompetensi pembelajaran bahasa Anda karena penguasaan makna ini berkaitan erat dengan sejumlah mata kuliah lain, yakni morfologi, sintaksis, pragmatik, membaca, dan menulis.
Tujuan pemberian mata kuliah semantik ini agar Anda mempunyai pengetahuan tentang semantik, memahami dan menguasai semantik sistem semantik bahasa Indonesia, serta mampu menggunakannya dalam bahaa sehari-hari.

MAKNA DAN SEMANTIK
Semantik dan Cakupannya
Ada 2 bidang studi yang mempelajari makna, yaitu semantik dan semiotik. Kalau semantik hanya mempelajari makna yang ada dalam semua sistem lambang dan tanda.
Ruang lingkup studi semantik mencakup semua tataran bahasa, kecuali tataran fonetik dan fonemik karena satuan pada kedua tataran itu tidak memiliki makna meskipun fonem dapat membedakan makna kata.
Berdasarkan objek yang dipelajari dibedakan adanya semantik leksikal dan semantik gramatikal.


Hakikat Makna
Untuk memahami apa yang dimaksud makna, kita dapat melihat dari beberapa pendekatan. Tiga dari sekian banyak pendekatan itu adalah pendekatan konseptual pendekatan komponensial, dan pendekatan operasional.
Pendekatan konseptual menyatakan setiap kata/leksem pada dirinya secara inheren telah terkandung suatu makna yang bias berupa gagasan, ide, konsep hal atau proses. Pendekatan komponensial menyatakan bahwa setiap makna sebuah kata/leksem terdiri dari sejumlah komponen yang secara keseluruhan membentuk makna kata tersebut.
Pendekatan operasional menyatakan makna sebuah kata/leksem baru jelas bila kata/leksem itu sudah digunakan di dalam konteks kalimat tertentu.


Ragam Makna
Ragam makna dapat dilihat dari berbagai kriteria atau sudut pandang. Oleh karena itu, di dalam berbagai sumber pustaka dapat ditemukan berbagai macam ragam makna. Pembedaan makna leksikal dan gramatikal adalah makna yang terjadi sebagai akibat proses-proses gramatikal, seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi.
Pembedaan makna denotatif dan makna konotatif didasarkan pada ada tidaknya nilai rasa. Makna denotatif adalah makna yang ada pada setiap leksem atau kata, sedangkan makna konotatif adalah nilai rasa positif, negatif maupun netral. Dalam berbagai buku pendidikan makna konotatif disebutkan juga sebagai makna tambahan yang ada pada setiap kata, termasuk makna lugas dan makna asosiasi, makna konseptual adalah makna yang ada dalam sebuah leksem, yang sebenarnya sama saja dengan makna leksikal dan makna denotatif, sedangkan makna asosiasi adalah makna lain yang dikaitkan dengan makna pada kata tertentu. Makna kata biasanya bersifat umum. Dibedakan dengan makna leksikal atau makna istilah yang bersifat tetap dan khusus karena hanya digunakan pada bidang kegiatan tertentu.
Makna lugas sebenarnya sama saja dengan makna leksikal atau makna leksikal denotatif, dipertentangkan dengan makna kias, yaitu makna yang merupakan kiasan, perbandingan atau persamaan dengan sesuatu yang lain.


RELASI MAKNA DALAM BAHASA INDONESIA
Relasi Sinonim dan Antonim
Secara etimologi, sinonim berasal dari bahasa Yunani Kuno yang terdiri dari dua kata, yaitu onoma yang berarti nama dan syn yang berarti dengan. Secara harafiah, sinonim dapat diartikan sebagai ‘nama lain untuk benda lain pula’, sedangkan secara semantis, sinonim dapat didefinisikan sebagai ungkapan (dapat berupa kata, frase atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain.
Dua buah kata yang bersinonim tidak memiliki makna yang persis sama. Oleh karena itu, kata-kata tersebut tidak selalu dapat saling menggantikan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, yaitu (1) faktor waktu yang berbeda; (2) faktor tempat atau daerah yang berbeda; (3) faktor sosial; (4) faktor bidang kegiatan; dan (5) faktor nuansa makna.
Antonim berasal dari onoma yang berarti nama dan anti yang berarti melawan (bahasa Yunani Kuno). Jadi, secara harfiah antonim berarti ‘nama lain untuk benda lain pula’. Sedangkan secara semantis, antonim berarti ungkapan (biasanya kata) yang dianggap bermakna kebalikan dari makna ungkapan lain.
Antonim sering juga disebut dengan istilah oposisi, ada kata-kata yang memiliki oposisi mutlak, oposisi kutub, oposisi hubungan, oposisi hierarkial, dan oposisi majemuk.


Relasi Polisemi dan Homonim
Polisemi adalah suatu bahasa (terutama kata atau frase) yang memiliki makna lebih dari satu. Menurut Pateda, polisemi terjadi karena beberapa hal, yaitu:
1. faktor gramatikal;
2. faktor leksikal;
3. faktor pengaruh bahasa asing;
4. faktor pemakai bahasa;
5. faktor keterbukaan bahasa.

Homonim berasal dari kata onoma yang berarti nama, dan homos yang berarti sama. Secara harafiah, homonim dapat diartikan sebagai ‘nama sama untuk benda lain’. Secara semantis, Verhaar mendefinisikan homonim sebagai ungkapan (kata, frase atau kalimat) yang bentuknya sama dengan suatu ungkapan lain, tetapi berbeda makna.
Homonim dapat dibedakan berdasarkan tingkat terjadinya, yaitu:
1. homonim antarkalimat;
2. homonim antarfrase;
3. homonim antarkata; dan
4. homonim antarmorfem.

Sedangkan berdasarkan bentuknya, homonim dapat dibedakan atas 3 macam, yaitu:
1. homonim yang homograf;
2. homonim yang homofon;
3. homonim yang homograf dan homofon.
Perbedaan antara polisemi dan homonim adalah berikut ini.

Polisemi Homonim

1. Bersumber dari satu kata saja 1. Bersumber pada dua kata atau
lebih
2. Maknanya masih berhubungan 2. Maknanya tidak berhubungan
atau berdekatan
3. Di dalam kamus didaftarkan 3. Di dalam kamus dituliskan
sebagai satu entri dan ditulis entri yang berbeda dan ditulis
mendatar: 1.. 2.. vertikal
1 ….
2 ….


Relasi Hiponim dan Ambiguitas
Istilah kiponim berasal dari bahasa Yunani Kuno yang terdiri dari kata onoma ‘nama’ hypo ‘di bawah’. Secara harafiah hiponim berarti ‘nama yang termasuk di bawah nama lain’. Secara semantis, hiponim dapat didefinisikan sebagai ungkapan (kata, frase atau kalimat) yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna ungkapan lain.
Berbeda dengan antonim, sinonim dan homonim yang memiliki hubungan dua arah maka hiponim memiliki hubungan satu arah. Selain itu, hiponim memiliki hubugan transitif, maksudnya jika a merupakan hiponim dari b, dan b adalah hiponim dari e maka a seharusnya merupakan hiponim dari c.
Istilah ambiguitas berasal dari bahasa Inggris ambiguity yang berarti suatu konstruksi dapat ditafsirkan lebih dari satu arti. Menurut Empson dalam Ullman ada tiga bentuk utama ambiguitass, yaitu.
1. ambiguitas pada tingkat fonetik;
2. ambiguitas pada tingkat gramatikal;
3. ambiguitas pada tingkat leksikal.

Menurut tata bahasa transformasi ambiguitas terjadi apabila struktur luar sama namun berasal dari struktur dalam yang berbeda, sedangkan dilihat dari sifat bahasa maka dapat dikatakan, ambiguitas terjadi karena:
1. sifat kata atau kalimat yang bersifat umum;
2. ketidakjelasan konteks;
3. batas makna yang relatif/tidak mutlak;
rujukan yang berupa konsep/abstrak


ENIS DAN FAKTOR PERUBAHAN MAKNA
Perubahan Makna
Perubahan makna adalah perubahan makna kata sebagai akibat dari berbagai faktor yang mempengaruhi pemakai kata-kata tersebut, yaitu manusia. Perubahan pada manusia yang disebabkan oleh berbagai faktor membawa perubahan pula pada bahasa yang digunakannya.
Ada dua faktor yang menyebabkan perubahan makna, yaitu faktor linguistis dan nonlinguistis. Yang tergolong faktor linguistis adalah (a) proses pengimbuhan (afiksasi) dan (b) proses penggabungan (komposisi). Sedangkan yang tergolong faktor nonlinguistis adalah (a) perkembangan ilmu pnengetahuan dan teknologi; (b) perkembangan sosial dan budaya; (c) perbedaan bidang pemakaian; (d) adanya asosiasi; (e) pertukaran tanggapan indra; dan(f) perbedaan tanggapan.


Faktor-faktor Penyebab Perubahan Makna
Perubahan makna dalam Bahasa Indonesia dapat disebabkan oleh dua faktor umum, yaitu (1) faktor linguistis dan (2) faktor nonlinguistis. Yang dimaksud dengan faktor linguistis adalah faktor kebahasaan yang mengakibatkan perubahan makna. Jadi, suatu kata berubah maknanya karena mengalami proses kebahasaan, seperti proses pengimbuhan (afiksasi) dan penggabungan (komposisi).
Faktor nonlinguistis adalah faktor-faktor nonkebahasaan yang mengakibatkan perubahan makna. Faktor ini meliput: (1) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, (2) perkembangan sosial dan budaya, (3) perbedaan bidang pemakaian, (4) adanya asosiasi, (5) pertukaran tanggapan indra, dan (6) perbedaan tanggapan pemakainya.

Jenis-Jenis Perubahan Makna
Kata-kata dalam bahasa Indonesia dapat mengalami perubahan makna, di antaranya adalah perluasan, penyempitan, penghalusan, dan pengasaran makna.
Perluasan makna adalah perubahan makna kata dari yang lebih khusus/sempit ke makna yang lebih umum/luas. Jadi, cakupan makna baru/ sekarang lebih luas daripada makna semula.
Penyempitan makna adalah perubahan makna kata dari yang lebih umum/luas menjadi makna yang lebih khusus/sempit.
Makna suatu kata kadang kala dirasakan kurang pantas/halus, kemudian timbullah bentuk kata dengan makna yang lebih halus untuk menggantikan kata tersebut. Proses ini disebut penghalusan makna.
Kebalikan dari penghalusan makna adalah pengasaran makna. Orang yang marah cenderung menggunakan kata-kata yang maknanya lebih kasar/rendah daripada kata yang bermakna halus/tinggi. Maka, terjadilah pengasaran makna, yaitu mengganti kata yang bermakna halus tinggi dengan kata yang bermakna kasar/rendah.


Jenis-jenis Perubahan Makna
Kata-kata dalam bahasa Indonesia dapat mengalami perubahan makna, di antaranya adalah perluasan, penyempitan, penghalusan, dan pengasaran makna.
Perluasan makna adalah perubahan makna kata dari yang lebih khusus/sempit ke makna yang lebih umum/luas. Jadi, cakupan makna baru/ sekarang lebih luas daripada makna semula.
Penyempitan makna adalah perubahan makna kata dari yang lebih umum/luas menjadi makna yang lebih khusus/sempit.
Makna suatu kata kadang kala dirasakan kurang pantas/halus, kemudian timbullah bentuk kata dengan makna yang lebih halus untuk menggantikan kata tersebut. Proses ini disebut penghalusan makna.
Kebalikan dari penghalusan makna adalah pengasaran makna. Orang yang marah cenderung menggunakan kata-kata yang maknanya lebih kasar/rendah daripada kata yang bermakna halus/tinggi. Maka, terjadilah pengasaran makna, yaitu mengganti kata yang bermakna halus tinggi dengan kata yang bermakna kasar/rendah.



HUBUNGAN MAKNA DENGAN STRUKTUR BAHASA INDONESIA
Kolokasi Dalam Frase Bahasa Indonesia
Frase dalam bahasa Indonesia merupakan gabungan dua kata atau lebih yang menduduki salah satu fungsi kalimat (subjek, predikat, objek, dan keterangan).
Kata apa saja yang dapat berkolokasi dalam sebuah frase sangat tergantung pada kategori frase tersebut dan jenis frase tersebut. Di samping itu, juga sangat tergantung pada ciri khas komponen makna sebuah kata. Misalnya, sebuah kata nominal yang berciri makna (+ umum) dapat berkolokasi dengan kata bilangan, seperti seekor monyet, 2 orang dukun, dan 3 buah mobil, tetapi kata nominal yang berciri makna (- umum) tidak dapat berkolokasi dengan kata bilangan itu, sebab tidak ada frase *seorang Fatimah, * sebuah Jakarta, dan juga * sebuah bulan.
Makna gramatikal yang dapat terjadi pada sebuah frase sangat tergantung pada komponen makna leksikal kata yang berkolokasi dengan kata yang menjadi inti frasenya. Misalnya, karena kata ayam berciri makna (+ bahan) maka frase sate ayam bermakna ‘sate yang bahannya daging ayam’; karena kata Madura berciri makna (+ tempat, asal) maka frase sate madura bermakna ‘sate yang berasal dari Madura’, dan karena itu kata kecap berciri makna (+ bumbu) maka frase sate kecap bermakna ; sate yang bumbunya kecap’.
Sebuah frase, terutama frase nominal dapat menjadi sangat luas, sesuai dengan makna atribut yang berkolokasi dengan inti frasenya.


Makna dan Struktur Kalimat dalam Bahasa Indonesia
Tata bahasa tradisional berpendapat bahwa setiap kalimat minimal memiliki fungsi sintaksis subjek dan predikat, objek apabila diperlukan baru ada, sedangkan fungsi keterangan bersifat opsional. Kajian semantik berpendapat fungsi-fungsi yang harus ada dalam suatu struktur kalimat sangat tergantung pada tipe verba yang menjadi pengisi fungsi predikat.
Secara umum dibedakan adanya predikat yang diisi oleh verba tindakan, verba kejadian, verba keadaan, dan verba nominal (nominal yang menduduki fungsi predikat). Keempat tipe itu menentukan fungsi-fungsi yang harus hadir, serta makna-makna apa yang dimiliki.
Nuansa makna dari setiap verba juga menentukan kata-kata apa saja yang dapat berkolokasi dengan verba tersebut. Misalnya, verba *jatuh dapat berkolokasi dengan preposisi ke, pada, dan dari, tetapi tidak dengan preposisi akan. Sebaliknya, verba takut dapat berkolokasi dengan preposisi akan, pada dan kepada, tetapi tidak dapat dengan preposisi ke.

UNGKAPAN DALAM BAHASA INDONESIA
Hakikat Ungkapan
Ungkapan sebagai salah satu komponen dalam retorika dapat diwujudkan dalam bentuk satuan ujaran yang memiliki makna kias, makna asosiatif, makna perbandingan maupun makna penyamaan.
Satuan-satuan ujaran itu termasuk yang lazim disebut idiom, metafora, majas, gaya bahasa, dan sebagainya.
Ungkapan merupakan bagian yang sangat penting di dalam seni berbicara, sebab ungkapan itu dapat memberi “warna” akan keindahan dan kerapian suatu bentuk kebahasaan.
Ungkapan ini bersifat terbuka sehingga sewaktu-waktu dapat bertambah dari mereka yang pandai berbahasa. Ungkapan yang dirasakan tidak cocok lagi dengan keadaan zaman akan tidak digunakan lagi.


Bentuk Ungkapan
Ungkapan sebagai salah satu komponen penting dalam retorika mempunyai tiga macam bentuk, yaitu berupa kata, frase dan kalimat. Ungkapan yang berupa kata biasanya digunakan dalam konteks kalimat kalau merupakan suatu pernyataan, misalnya kata buaya dalam kalimat “Dasar buaya ibunya sendiri ditipunya”.
Namun, bisa juga tidak dalam konteks kalimat apabila digunakan, misalnya di dalam makian, ejekan atau hardikan.
Ungkapan dalam bentuk frase mempunyai jumlah yang paling banyak. Apabila dilihat dari kategorinya ada ungkapan dalam bentuk frase verbal, frase nominal, frase ajektival, dan frase preposisional. Ungkapan dalam bentuk frase preposisional jumlahnya sangat terbatas
Ungkapan dalam bentuk kalimat, kalau yang dimaksud kalimat adalah konstruksi yang berunsur subjek dan predikat, jumlahnya juga cukup banyak. Akan menjadi lebih banyak lagi kalau peribahasa juga dianggap sebagai ungkapan.


Penggunaan Ungkapan
Sesuai dengan fungsinya, sebagai komponen yang penting di dalam seni retorika maka ungkapan itu dapat digunakan untuk mengungkapkan berbagai maksud, konsep, gagasan, dan perasaan dari si orator atau penulis kepada para pendengar atau pembaca. Maka ungkapan itu dapat digunakan untuk menyatakan makian, ejekan, sindiran, anjuran atau nasihat, dan penegasan terhadap hal, konsep, keadaan, dan masalah yang ingin diungkapkan. Dalam hal ini, terlihat bahwa penggunaan untuk menegaskan lebih banyak terjadi dari pada untuk maksud lainnya.

MAKNA DAN PENGGUNAANNYA DALAM BAHASA INDONESIA
Makna dan Diksi
Diksi adalah kemampuan pembicara atau penulis dalam memilih kata-kata untuk menyusunnya menjadi rangkaian kelimat yang sesuai dengan keselarasan dari segi konteks. Orang yang memiliki kemampuan memilih kata adalah orang harus (a) memiliki kosakata, (b) memahami makna kata tersebut, (c) memahami cara pembentukannya; (d) memahami hubungan-hubungannya, dan (e) memahami cara merangkaikan kata menjadi kalimat yang memenuhi kaidah struktural dan logis.
Ada 7 kriteria yang dapat digunakan untuk memilih kata, yaitu kriteria (1) humanis antropologis; (2) linguistis pragmatis; (3) sifat ekonomis; (4) psikologis; (5) sosiologis; dan (6) politis. Berdasarkan kriteria tersebut dapat digunakan beberapa cara untuk memilih kata, yaitu melihatnya dari segi (1) bentuk kata; (2) baku tidaknya kata; (3) makna kata; (4) konkret atau abstraknya kata; (5) keumuman dan kekhususan kata; (6) menggunakan gaya bahasa/majas; dan (7) idiom.

Makna dan Gaya Bahasa
Masalah gaya bahasa termasuk masalah stilistika banyak digunakan dalam sastra. Sehubungan dengan mata kuliah Semantik, yang dibicarakan dalam kegiatan belajar ini adalah makna dari gaya bahasa tersebut yang tentunya tidak dapat terlepas dari gaya bahasa itu sendiri.
Dalam bahasa Indonesia banyak gaya bahasa yang dapat digunakan, namun pada kesempatan ini hanya dibicarakan tentang gaya bahasa:
1. klimaks dan antiklimaks;
2. eufimisme dan desfemisme;
3. hiperbola;
4. perumpamaan;
5. metafora;
6. personifikasi;
7. antitesis;
8. litotes;
9. ironi;
10. paranomasia;
11. metonimia;
12. sinekdoke;
13. alusi

Makna dan Kesantunan
Kata santun adalah kata-kata yang dianggap memiliki nilai rasa halus/tinggi dan tidak menyinggung perasaan pendengar atau pembacanya, sedangkan kata tabu (tak santun) adalah kata-kata yang memiliki nilai rasa kasar dan diharapkan tidak diucapkan atau ditulis.
Kata santun dapat dikelompokkan atas dua golongan besar, yaitu:
1. kata santun di bidang kepercayaan;
2. kata santun di bidang sosial.

Selain itu, dalam pergaulan juga diperhatikan kata santun untuk hal-hal berikut.
1. kata santun untuk mati;
2. kata santun untuk cacat;
3. kata santun untuk hal-hal yang menimbulkan rasa jijik;
4. kata-kata yang perlu disingkat.

Dari MATERI yang saya terima ini belum lengkap banget tapi kata pak dosen ini sudah cukup untuk panduan referensi nya.....UNTUK LEBIH LENGKAP BELI AJA BUKUNYA POKOKNYA YANG BERKAITAN DENGAN SEMANTIK pasti BISA LEBIH JELAS DAN PAHAM....
......................SELAMAT BELAJAR..........................

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar